Rupiah Menguat Terdorong Stimulus Infrastruktur AS

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 17 Jun 2020, 11:12 WIB
Diperbarui 17 Jun 2020, 11:12 WIB
Rupiah Menguat di Level Rp14.264 per Dolar AS
Perbesar
Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Rabu pekan ini.

Mengutip Bloomberg, Rabu (17/6/2020), rupiah dibuka di angka 14.0065 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.090 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.040 per dolar AS hingga 14.065 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih melemah 1,35 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.234 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.155 per dolar AS.

Dikutip dari Antara, Rabu (17/6/2020), Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan sentimen positif dari kebijakan stimulus baru The Fed kelihatannya masih menjadi pemicu penguatan harga aset-aset berisiko pagi ini.

"Rupiah juga masih bisa menguat terhadap dolar AS hari ini karena sentimen The Fed tersebut," ujar Ariston.

Selain itu, sentimen positif juga dipicu rencana stimulus pemerintah AS sebesar USD 1 triliun untuk infrastruktur.

Rilis data penjualan ritel AS semalam, yang mengalami kenaikan di Mei juga menguatkan sentimen positif bahwa pembukaan kembali ekonomi mendorong pemulihan.

 

2 dari 3 halaman

Prediksi

Ilustrasi rupiah
Perbesar
Auto kaya dengan ikut undian dari Smartfren.

Data penjualan ritel AS tumbuh 17,7 persen (mom) pada Mei dibandingkan data April yang turun 14,7 persen.

Namun, di sisi lain, lanjut Ariston, munculnya gelombang kedua pandemi dan masih meningginya penyebaran wabah di seluruh dunia masih menjadi kekhawatiran pasar.

"Kekhawatiran ini bisa menahan penguatan dan memicu pelemahan aset berisiko kembali," katanya.

Ia menambahkan laporan IMF soal kontraksi ekonomi global yang diperkirakan melebihi prediksi sebelumnya, juga bisa menjadi penekan aset berisiko.

Ariston memperkirakan rupiah hari ini berpotensi bergerak menguat ke kisaran Rp14.000 per dolar AS dan potensi pelemahan ke Rp14.150 per dolar AS.

Pada Selasa (16/6) lalu, rupiah menguat 25 poin atau 0,18 persen menjadi Rp14.090 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.115 per dolar AS.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓