Wall Street Melonjak Usai The Fed Umumkan Stimulus

Oleh Arthur Gideon pada 16 Jun 2020, 06:15 WIB
Diperbarui 16 Jun 2020, 06:16 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street melonjak pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta), dan mampu pulih dari pelemahan yang telah dicetak sebelumnya.

Pendorong kenaikan bursa saham di Amerika Serikat (AS) tersebut karena Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) telah mengumumkan langkah kebijakan moneter lanjutan untuk mendukung pasar keuangan di tengah pandemi Corona.

mengutip CNBC, Selasa (16/6/2020), Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup 157,62 poin lebih tinggi atau naik 0,6 persen menjadi 25.763,16. Indeks S&P 500 naik 0,8 persen dan berakhir di angka 3.066,59. Sementara Nasdaq Composite naik 1,4 persen menjadi 9.726,02.

Saham -saham teknologi seperti Facebook, Amazon, Netflix dan Apple memimpin kenaikan di Wall Street, dengan masing-masing naik lebih dari 1 persen. Saham JPMorgan Chase, Citigroup, Wells Fargo dan Bank of America naik setidaknya 0,8 persen.

Sebelumnya di awal perdagangan atau sebelum pengumuman the Fed, rata-rata idneks saham utama turun tajam. Dow Jones diperdagangkan turun 760 poin. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun sebanyak 2,5 persen dan 1,9 persen.

The Fed mengumumkan akan menjalankan kebijakan pembelian obligasi korporasi individual, menandai pendekatan yang lebih luas untuk pembelian obligasi korporasi.

The Fed sebelumnya telah mengindikasikan akan membeli obligasi di pasar primer, tetapi pengumuman Senin menandai perluasan itu ke pasar sekunder. Pengumuman terbaru ini juga menunjukkan The Fed akan terus mendukung pasar kredit selama pandemi Corona.

"The Fed akan selalu mencoba dan menunjukkan siapa bosnya," kata analis senior WallachBeth Capital Ilya Feygin. "Itu adalah pendorong utama Wall Street," lanjut Feygin.

 

2 dari 2 halaman

Menutup Pelemahan

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Perbesar
Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Kenaikan Wall Street pada awal pekan ini menutupi pelemahan yang telah dicetak pada pekan sebelumnya. Pelemahan tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran akan datangnya gelombang kedua virus Corona dan juga aksi ambil untung investor besar-besaran.

Dow dan S&P 500 masing-masing turun 5,5 persen dan 4,7 persen minggu lalu. Sementara Nasdaq turun 2,3 persen. Ketiga tolok ukur pasar saham utama di bursa AS tersebut mengalami minggu terburuk sejak 20 Maret.

Negara-negara bagian yang sedang menjalani proses pembukaan kembali seperti Alabama, California, Florida dan Carolina Utara melaporkan peningkatan kasus Corona baru setiap hari.

Texas dan Carolina Utara melaporkan sejumlah catatan rawat inap terkait virus baru pada Sabtu kemarin.

Scott Gottlieb, mantan kepala FDA, mengatakan kepada CNBC bahwa hotspot virus Corona yang muncul bisa dengan cepat lepas kendali.

Lanjutkan Membaca ↓