Bangun Embung, Cara Petani Muna Antisipasi Perubahan Iklim

Oleh stella maris pada 09 Jun 2020, 17:29 WIB
Diperbarui 09 Jun 2020, 18:27 WIB
Petani membangun embung
Perbesar
Pembuatan tambang kelapa Tani Suka Maju.

Liputan6.com, Jakarta Para petani di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara siap menghadapi kemarau yang biasa terjadi pada Juli dan Oktober. Antisiaspi menghadapi musim kemarau panjang, dilakukan para petani dengan membangun embung.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, ketersediaan air sangat dibutuhkan untuk menghadapi musim kemarau, sebagaimana prediksi badan pangan dunia, FAO.

“FAO telah mengeluarkan prediksi yang menyebut akan terjadi musim kemarau panjang disejumlah negara, termasuk Indonesia. Ada berbagai cara yang bisa kita lakukan sebagai antisipasi. Pertama dengan melakukan percepatan tanam dan memanfaatkan sisa air yang tersedia selama musim hujan. Langkah antisipasi lainnya adalah membangun embung. Manfaat embung ini banyak, bisa membantu banyak sektor di pertanian,” tuturnya, Selasa (9/6).

Hal senada disampaikan Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Sarwo Edhy. Dijelaskannya, pembangunan embung sangat tepat, terlebih buat daerah yang berada di dataran rendah seperti Kecamatan Laselapa Kabupaten Muna.

“Dengan memanfaatkan embung, sektor pertanian tidak akan terganggu selama musim kemarau. Karena air yang dibutuhkan tanaman, sudah tersedia. Daerah dataran rendah seperti Muna, bisa memanfaatkan embung sebagai solusi penyediaan air,” kata Sarwo Edhy.

Di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, bangunan konservasi air atau embung dilakukan di Desa Bangun Sari, Kecamatan Lasalepa. Nilai bantuan 1 unit embung sendiri mencapai sekitar Rp120 juta. Bantuan embung ini diterima Kelompok Tani (Poktan) Sukamaju yang diketuai Sutresno.

Sutresno menyambut baik pembangunan embung di daerahnya karena manfaat yang didapat dari embung ini sangat banyak.

“Manfaat embung buat para petani di Desa Bangun Sari, Kecamatan Lasalepa, khususnya petani yang tergabung dalam Poktan Sukamaju, sangat banyak. Embung ini bisa untuk mengairi sawah, juga tanaman hortikultura, dan juga sebagai sumber air ternak,” paparnya.

Ditambahkannya, embung juga menjadi andalan petani untuk menghadapi musim kemarau yang biasanya dimulai sekitar bulan Juli. Pembangunan Embung dilakukan dengan swadaya kelompok tani, dengan memanfaatkan potensi lokal sehingga roda perekonomian daerah ini akan terus berjalan khususnya di masa pandemi saat ini. Pembangunan Embung serta manfaatnya kedepan diharapkan dapat menambah pendapatan petani.

“Petani harus mengantisipasi perubahan iklim, Dengan adanya embung, petani tidak peru khawatir lagi. Karena proses pertanian tetap bisa berlangsung dan pendapatan kami bertambah,” katanya lagi.

 

(*)