Rupiah Kian Perkasa, Tembus 13.939 per Dolar AS

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 05 Jun 2020, 11:04 WIB
Diperbarui 05 Jun 2020, 11:06 WIB
Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Jumat akhir pekan ini. Jelang tengah hari, rupiah bahkan sudah tembus di level 13.939 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, Kamis (4/6/2020), rupiah dibuka di angka 14.075 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.095 per dolar AS. Menjelang siang rupiah terus menguat ke 13.939 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.939 per dolar AS hingga 14.089 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih melemah 0,53 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.100 per dolar AS, menguat jika dibandingan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.165 per dolar AS.

"Penguatan aset-aset berisiko agak tertahan pagi ini karena pasar mengevaluasi data-data ekonomi yang masih memburuk seperti data tenaga kerja yang masih menunjukkan peningkatan pengangguran," kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta seperti dikutip dari Antara, Jumat (5/6/2020).

Malam ini, lanjut Ariston, pasar akan menantikan data ketenagakerjaan non-pertanian AS (US Non Farm Payrolls).

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

IHSG Berakhir Bertahan di Zona Hijau
Perbesar
Petugas menata tumpukan uang kertas di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Kamis (6/7). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi I perdagangan hari ini masih tumbang di kisaran level Rp13.380/USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kendati demikian, kata dia, aset berisiko masih berpotensi menguat hari ini karena pasar masih merespons positif pembukaan ekonomi sejumlah negara di tengah mulai melandainya pandemi COVID-19.

"Ditambah dengan rencana stimulus baru dari beberapa negara seperti AS, Jepang dan Zona Euro yang akan membantu pemulihan ekonomi ke depan," ujar Ariston.

Saat ini AS masih dalam diskusi untuk menggelontorkan stimulus fiskal baru. Sedangkan Bank Sentral Eropa (ECB) akan menyediakan dana lebih dari 1 miliar Euro untuk program pembelian obligasi.

Sementara itu bank sentral Jepang berencana melipatgandakan bantuan ke sektor UKM.

Menurut Ariston, rupiah masih berpotensi menguat hari ini dengan sentimen positif di atas. "Rencana pelaksanaan new normal juga menjadi faktor positif untuk penguatan rupiah karena ekonomi akan aktif kembali," katanya.

Ariston memperkirakan rupiah hari ini berpotensi bergerak menguat di kisaran Rp14.000 per dolar AS dan potensi resisten Rp14.200 per dolar AS.

Pada Kamis (4/6) lalu, rupiah ditutup stagnan atau sama dengan hari sebelumnya di level Rp14.095 per dolar AS.

Lanjutkan Membaca ↓