Rupiah Diprediksi Menguat ke 13.950 per Dolar AS

Oleh Liputan6.com pada 05 Jun 2020, 08:00 WIB
Diperbarui 05 Jun 2020, 08:00 WIB
Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan kembali menguat pada perdagangan Jumat ini. Penguatan tersebut masih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi AS yang belum stabil. 

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, nilai tukar rupiah akan menguat ke posisi 13.950 per dolar AS dari penutupan perdagangan kemarin di angka 14.095 per dolar AS. Penguatan tersebut salah satunya dipicu oleh kondisi eksternal di AS yang belum stabil.

"Ada kemungkinan dalam perdagangan rupiah akan menguat di range 13.950 per dolar AS hingga 14.120 per dolar AS," ujar Ibrahim, di Jakarta, Jumat (5/6/2020).

Menurutnya, pasar tetap memilih menarik dana ke dalam negeri meski pemerintah AS mengambil langkah optimistis dengan memihak kepada para demonstran. Adapun langkah yang dilakukan dengan menurunkan pasukan garda nasional.

"Di dalam negeri Amerika Serikat sedang terjadi demonstrasi yang rusuh. Namun pemerintah Trump optimistis kerusuhan bisa teratasi dengan diturunkannya pasukan garda nasional yang pro dengan para demonstran," jelasnya.

 

2 dari 2 halaman

Hong Kong

Rupiah Masih Tertahan di Zona Merah
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di Jakarta, Selasa (15/10/219). Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 14.166 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dia menambahkan, posisi Rupiah juga perkasa karena adanya fokus pasar yang terbagi dengan kondisi di Hong Kong. Di mana, Partai Komunis mengusulkan memberlakukan undang-undang keamanan nasional di negara tersebut.

"Fokus pasar bergeser ke Hong Kong setelah usulan Partai Komunis untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong. Hal itu menimbulkan ketegangan baru antara AS dengan China," tandasnya.

Reporter : Anggun P. Situmorang

Sumber : Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓