Rupiah Dibuka di Angka 14.105 per Dolar AS, Potensi Penguatan Terbuka Lebar

Oleh Arthur Gideon pada 04 Jun 2020, 11:20 WIB
Diperbarui 04 Jun 2020, 11:20 WIB
20151229-Transaksi-Rupiah-AY
Perbesar
Petugas Bank menghitung uang pecahan Rp100.000 di Bank Bukopin Syariah, Jakarta, Selasa (29/12). Di pasar spot, Senin (28/12), rupiah melemah tipis 0,08% ke Rp 13.642 per dollar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Kamis ini. Namun masih ada potensi penguatan rupiah yang didorong oleh sentimen dari luar.

Mengutip Bloomberg, Kamis (4/6/2020), rupiah dibuka di angka 14.105 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.095 per dolar AS. Namun menjelang siang rupiah kembali menguat ke 14.097 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.097 per dolar AS hingga 14.146 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih melemah 1,92 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.165 per dolar AS, menguat jika dibandingan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.245 per dolar AS.

 

2 dari 3 halaman

Potensi Penguatan

Rupiah Masih Tertahan di Zona Merah
Perbesar
Teller menunjukkan mata uang rupiah di Jakarta, Selasa (15/10/219). Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 14.166 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpotensi menguat didukung sentimen positif global. Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, sentimen global hari ini masih relatif positif untuk aset berisiko.

"Ekspektasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat karena dibukanya kembali perekonomian di beberapa negara di tengah pandemi, masih memberikan sentimen positif ke aset berisiko, termasuk rupiah," ujar Ariston dikutip dari Antara.

Apalagi, lanjut Ariston, negara-negara besar di Zona Euro dan Amerika Serikat masih akan mengeluarkan stimulus besar yang bisa mempercepat pemulihan.

Dari domestik, penerapan tatanan normal baru (new normal) juga masih memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar.

"Momentum penguatan rupiah mungkin masih terjaga hari ini," kata Ariston.

Ariston memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran 14.000 per dolar AS dan potensi resisten 14.200 per dolar AS.

3 dari 3 halaman

BI Yakin Rupiah Bakal Terus Perkasa

Rupiah-Melemah-Tipis-Atas-Dolar
Perbesar
Petugas Bank tengah menghitung uang rupiah di Bank BRI Syariah, Jakarta, Selasa (28/2). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada perdagangan Selasa pekan ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yakin nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan terus menguat di tengah pandemi Corona Covid-29. Bahkan, rupiah diperkirakan bisa menguat hingga di bawah level 14.200 per dolar AS.

"Ini tentu saja peluang ke depan nilai tikar rupiah menguat. Kami masih melihat rupiah di bawah saat ini (14.200 per dolar AS)," kata Perry usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui video conference di Jakarta, pada Rabu 3 Juni 2020.

Penguatan rupiah terhadap dolar AS ini karena proses koordinasi yang intens dilakukan oleh BI, Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator. Mengingat pada April lalu, rupiah sempat menembus level psikologis hingga mencapai level Rp 16.400 per dolar AS.

Di sisi lain, Perry menyebut koordinasi juga meningkatkan citra positif kondisi pasar valuta asing Tanah Air yang sempat terpuruk akibat pandemi covid-19. Imbasnya secara bertahap investor dari dalam dan luar negeri kembali percaya untuk berinvestasi di Indonesia.

Koordinasi sendiri mencakup kebijakan bersifat fiskal dan moneter khususnya di sektor pasar keuangan. Sebab, cara ini diyakini efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri para investor domestik maupun asing sehingga mendongkrak rupiah.

"Koordinasi yang kuat antara BI, Kemenkeu, dan OJK untuk stabilitas pasar keuangan berjalan baik di pasar valuta asing. Namun juga pasar Modal dan BSN," tegasnya.

Lanjutkan Membaca ↓