IHSG Mulai Menghijau Bawa Saham Emiten Properti Rebound

Oleh Liputan6.com pada 03 Jun 2020, 09:30 WIB
Diperbarui 03 Jun 2020, 09:30 WIB
Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Perbesar
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Kinerja sejumlah saham emiten properti mulai menghijau. Ini seiring Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mulai rebound usai sempat tertekan dampak Virus Corona. 

Salah satunya, saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). Saham perusahaan pada pekan kemarin bertengger di posisi Rp 184 atau naik 8,88 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya. Kemudian tercatat pada Rabu (27/5/2020), saham LPKR masih di posisi Rp150.

Analis Oso Sekuritas, Sukarno Alatas memprediksi LPKR yang memiliki bisnis inti di sektor properti juga kesehatan akan memiliki kinerja positif dalam jangka panjang.

Ini karena animo di kedua bisnis sektor itu dinilai cukup baik. Sektor kesehatan dianggap menarik karena merupakan segmen bisnis yang saat ini benar-benar dibutuhkan masyarakat. "Akan ada peluang kinerjanya bisa lebih baik," kata Sukarno, di Jakarta.

Dia mengatakan, kesehatan emiten dengan proporsi recurring income yang besar menjadi kekuatan terbesar LPKR menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Asal bisa memaksimalkan hal yang menjadi target perusahaan dan memanfaatkan dengan baik kondisi penurunan suku bunga dan insentif lain yang ada, dalam jangka panjang kinerja akan tetap positif.

Dia juga menilai kenaikan yang terjadi dalam pergerakan IHSG bersifat technical rebound. Rebound saham ini bersifat jangka pendek dalam merespon pelonggaran PSBB. Pasar merespon positif dengan adanya berlaku new normal yang artinya ekonomi akan terbebas dari negatif.

"Indonesia termasuk bagian negara yang pulih lebih cepat setelah China akibat pandemi ini," kata dia.

Alatas menyampaikan bahwa capaian kinerja positif sejumlah emiten properti di 2019 tetap harus dilihat secara komprehensif mengingat situasinya pasti terus positif jika tidak terjadi pandemi Covid-19. Kebijakan new normal diharapkan akan meningkatkan kembali kepercayaan investor sehingga kinerja emiten pun menjadi semakin positif.

Yang pasti, pelonggaran pembatasan sosial serta berlakunya kenormalan baru, akan menimbulkan optimisme dan memungkinkan kinerja operasional mal dan sektor properti berangsur pulih. Hal ini sejalan dengan membaiknya konsumsi masyarakat.

 

2 dari 2 halaman

Kinerja

Pasar saham Indonesia naik 23,09 poin
Perbesar
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk diketahui, LPKR sudah melaporkan kinerja 2019 yang mencatatkan peningkatan penjualan 7,6 persen pada 2019.

LPKR meraih pendapatan Rp12,25 triliun sepanjang 2019. Kenaikan pendapatan disumbang oleh pertumbuhan segmen pendapatan berulang alias recuring income yang dimotori oleh anak usaha, PT Siloam Hospitals Tbk. (SILO).

SILO meraup pendapatan sebesar Rp7,02 triliun sepanjang tahun lalu atau naik 17,7 persen. Unit bisnis rumah sakit itu berkontribusi 75,1 persen terhadap total pendapatan berulang LPKR.

Kenaikan pendapatan SILO tak lepas dari pembukaan rumah sakit baru pada kuartal IV/2019. Walhasil, rumah sakit yang dikelola mencapai 37 rumah sakit per akhir Desember 2019. Bisnis rumah sakit mampu mengimbangi penurunan pada bisnis properti dari tahun ke tahun.

Pada kuartal I 2020 LPKR membukukan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp703 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 28 persen dari target prapenjualan sepanjang 2020 sebanyak Rp2,5 triliun.

Pra-penjualan pada kuartal keempat 2019 merupakan pra penjualan kuartal tertinggi sepanjang sejarah secara signifikan telah meningkatkan posisi kas LPKR. Hal ini akan membantu mengatasi ketidakpastian ekonomi dan membangun fondasi untuk bangkit kembali pasca Covid-19.

LPKR telah memperkuat posisi kas dengan saldo kas dan setara kas sebesar Rp4,69 triliun pada 2019 dibandingkan dengan Rp1,82 triliun pada akhir tahun 2018. Pada 2019, LPKR melaporkan total utang sebesar Rp12,25 triliun menurun sebesar Rp2,62 triliun dari tahun sebelumnya.

Hal itu menyebabkan rasio utang bersih terhadap ekuitas meningkat secara signifikan menjadi 0,22 kali pada 2019 dibandingkan dengan 0,53 kali pada akhir tahun 2018.

LPKR berencana untuk memanfaatkan peluang untuk mendiversifikasi utang dari USD, dengan lebih banyak utang dalam mata uang rupiah karena saat ini utang berdenominasi USD sebesar 92 persen dari total utang.

Data pembukuan LPKR menyebutkan lebih dari 70 persen dari pendapatan Lippo Karawaci berasal dari recurring income, yang memberikan stabilitas di saat situasi pasar bergejolak. Dalam jangka panjang, kinerja LPKR diprediksi terus meningkat sebagai akibat dari strategi deleverage dan keberhasilan kepemimpinan manajemen.

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait