BI: Rupiah Berpeluang Terus Menguat ke Arah Fundamental

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 28 Mei 2020, 16:30 WIB
Diperbarui 28 Mei 2020, 16:30 WIB
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Menguat
Perbesar
Teller menghitung mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengumumkan nilai tukar rupiah menguat pada Rp 14.670 per USD, dan diperkirakan akan terus menguat mencapai tingkat fundamentalnya.

Hal ini disampaikan Perry dalam video konferensi Perkembangan Ekonomi Terkini, Kamis (28/5/2020). Dalam kesempatan ini, Perry menjelaskan tingkat fundamental yang dimaksudkan dapat diindikasikan dengan inflasi yang lebih rendah, defisit transaksi berjalan yang juga rendah, serta masuknya aliran modal asing.

"Inflasi yang lebih rendah secara fundamental juga akan menguatkan nilai tukar rupiah,"

"Defisit transaksi berjalan yang lebih rendah itu juga menopang penguatan nilai tukar rupiah, karena kebutuhan devisa itu juga akan berkurang," sambungnya.

Kemudian, masuknya aliran modal asing khususnya melalui SBN, disebut Perry juga akan memperkuat nilai tukar rupiah. Meski demikian, menurut BI nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan masih bisa terus menguat nantinya.

"Kami meyakini bahwa nilai tukar saat ini masih undervalue dan berpeluang akan terus mengalami penguatan ke arah fundamentalnya," kata Perry.

 

2 dari 2 halaman

Nilai Tukar Rupiah Sebelum Corona

BI Tahan Suku Bunga Acuan 6 Persen
Perbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebagai pengingat, Perry membeberkan bahwa sebelum covid-19, nilai tukar rupiah pernah di bawah Rp 14 ribu, "itu akan mengarah ke sana," kata dia.

Hal ini, disebut Perry sebagai premi risiko, dimana masih adanya ketidakpastian di pasar keuangan global, pun persepsi resiko di pasar keuangan global di negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

"Premi resiko itu bisa diukur dengan Credit Default Swap, premi bagi para investor global kalau mereka memang memegang obligasi globalnya pemerintah Indonesia,"

Preminya sekarang ini sudah menurun menjadi 160 persen, sebelum covid-19 itu 66 persen, dan sempat tertinggi sekitar 240 selama covid-19," imbuhnya.

Lanjutkan Membaca ↓