Busa Saham AS Bergerak Variatif Dipengaruhi Banyak Sentimen

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 27 Mei 2020, 06:45 WIB
Diperbarui 27 Mei 2020, 06:45 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi

Liputan6.com, Jakarta Saham berjangka AS bergerak datar dalam perdagangan semalam. Hal ini karena investor meyakini optimisme tentang pembukaan kembali ekonomi dan kemungkinan vaksin coronavirus serta kekhawatiran tentang ketegangan AS-China.

Harapan baru-baru ini untuk kembali ke kebiasaan konsumen normal telah mendorong Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 untuk sebentar menyentuh level pasar utama untuk pertama kalinya sejak awal Maret. Namun, peningkatan ketegangan AS-Tiongkok telah membatasi keuntungan.

Dikutip dari laman CNBC, Rabu (27/5/2020), Dow futures turun sekitar 20 poin. S&P 500 dan Nasdaq juga lebih rendah, dengan pelemahan masing-masing 5 poin dan 7 poin.

Pada hari Selasa, Dow Jones Industrial Average sempat naik lebih dari 500 poin, atau 2,2 persen. Rata-rata 30 saham diperdagangkan secara singkat di atas 25.000, level yang tidak terlihat sejak awal Maret.

Sebuah laporan dari Bloomberg News yang mengatakan Trump akan sanksi pada perusahaan dan pejabat China atas situasi di Hong Kong, yang kemudian mendorong saham turun dari level tertinggi mereka di jam terakhir perdagangan.

Presiden Trump mengatakan Selasa sore bahwa dia akan membuat pengumuman tentang tanggapan pemerintah terhadap tindakan China pada akhir minggu ini.

 

2 dari 2 halaman

Saham Bank Menguat

Harga Minyak Tertekan, Bursa Saham AS Merosot
Bursa saham Amerika Serikat (AS) merosot di awal pekan ini didorong aksi jual di sektor saham energi karena harga minyak melemah.

S&P 500 naik 1,2 persen, secara singkat menembus level 3.000 untuk pertama kalinya sejak 5 Maret. Banyak analis Wall Street percaya bahwa menembus di atas level ini adalah tren jangka panjang yang bullish. Nasdaq Composite naik 0,2 persen.

Sembilan dari sebelas sektor S&P 500 positif di sesi Selasa, dipimpin oleh bank, yang mendapat dorongan pembukaan kembali ekonomi. Citigroup naik lebih dari 9 persen dan JPMorgan naik 7 persen setelah CEO Jamie Dimon mengatakan bank "sangat berharga" dengan harga saat ini.

"Untuk pertama kalinya dalam krisis ini, kita dibombardir oleh kabar baik," kata Jim Paulsen, kepala strategi investasi di Leuthold Group kepada CNBC. "S&P 500 akhirnya menembus di atas rata-rata bergerak 200 hari (3000) dan obat vaksin baru terlihat menjanjikan," tambahnya.

Perusahaan bioteknologi Novavax, Senin mengatakan, pihaknya memulai studi manusia pertama dari vaksin coronavirus eksperimentalnya.

Lanjutkan Membaca ↓