Harga Emas Melempem karena Investor Koleksi Aset Berisiko

Oleh Arthur Gideon pada 19 Mei 2020, 07:30 WIB
Diperbarui 19 Mei 2020, 07:33 WIB
20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas turun dari level tertinggi selama lebih dari tujuh tahun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Pendorong pelemahan harga emas ini karena optimisme seputar uji coba vaksin virus Corona.

Mengutip CNBC, Selasa (19/5/2020), harga emas di pasar spot turun 0,7 persen menjadi USD 1.728,72 per ounce. Pada sesi sebelumnya harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak Oktober 2012 di USD 1.764,55 per ounce.

Sedangkan untuk harga emas berjangka AS melemah 1,3 persen menjadi USD 1.734,40 per ounce.

Kepala Perdagangan U.S. Global Investors Michael Matousek menjelaskan, salah satu alasan harga emas mengalami tekanan karena investor mulai masuk ke instrumen yang berisiko dan meninggalkan safe haven.

"Orang-orang mulai masuk ke pasar saham," kata dia.

Wall Street melonjak dan harga minyak mencapai level tertinggi dua bulan setelah perusahaan pembuat obat Moderna mengumumkan bahwa eksperimen vaksin menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam uji coba tahap awal.

Selain itu, investor juga mengandalkan lebih banyak stimulus untuk menyelamatkan ekonomi AS dari kemerosotan.

Gubernur Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan bahwa mereka akan menyuntikkan kebutuhan untuk tiga hingga enam bulan lagi bantuan keuangan dari pemerintah untuk perusahaan dan keluarga.

Harga emas cenderung menguat jika suku bunga acuan lebih rendah. Bank sentral AS telah meluncurkan gelombang penurunan suku bunga dan stimulus lainnya untuk membatasi kerusakan ekonomi akibat pandemi Corona.

2 dari 2 halaman

Harga Emas Diprediksi Tembus USD 1.800 per Ounce

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Harga emas kembali dalam mode reli pada Jumat pekan lalu, naik di atas USD 1.750 per ounce, dengan analis yang mencari keuntungan lebih banyak pada pekan ini karena meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China, serta data ekonomi memburuk

Melansir dari laman Kitco, Senin (18/5/2020), ketegangan perdagangan AS-China memasuki babak baru pada akhir pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis, bahwa ia tidak tertarik untuk berbicara dengan Presiden Cina Xi Jinping sambil menambahkan bahwa ia berpotensi dapat memutuskan hubungan sepenuhnya dengan China.

Ketegangan meningkat lebih lanjut pada hari Jumat pekan lalu, ketika pemerintahan Trump mengumumkan bahwa mereka akan memblokir pengiriman semi-konduktor ke Huawei Technologies dari pembuat chip global. 

Sebagai tanggapan, China mengatakan siap untuk menempatkan perusahaan-perusahaan AS pada "daftar entitas yang tidak dapat diandalkan," yang dapat mencakup Apple, Cisco Systems, dan Qualcomm. China juga mengatakan bisa menangguhkan pembelian pesawat Boeing Co.

"Saya tidak melihat ketegangan itu membaik. Jika ada, semakin lama kita memiliki masalah dengan coronavirus, semakin akan meningkatkan retorika antara AS dan China," kata pakar logam mulia Gainesville Coins, Everett Millman.

Sementara itu, analis pasar FXTM Han Tan mengatakn, untuk harga emas, langkah selanjutnya adalah mencapai level USD 1.800 per ounce, yang sekarang hanya masalah waktu.

"Bulan-bulan mendatang tetap dengan risiko penurunan dan ancaman dinginnya hubungan AS-China di tengah pandemi global ini hanya akan semakin menghambat selera risiko global," kata Tan.

"Jalur resistensi emas yang paling rendah tetap ke sisi atas, jadi mencapai pegangan USD 1.800 hanya masalah waktu," imbuhnya.

Lanjutkan Membaca ↓