AS-China Kembali Memanas, Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi

Oleh Septian Deny pada 16 Mei 2020, 08:30 WIB
Diperbarui 16 Mei 2020, 10:27 WIB
20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia
Perbesar
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas melonjak pada perdagangan Jumat (Sabtu waktu Jakarta). Hal ini didorong oleh ketegangan perdagangan AS-Cina yang baru menambah kekhawatiran tentang kemerosotan ekonomi yang lebih dalam akibat pandemi virus corona.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (16/5/2020), harga emas di pasar spot naik 0,7 persen menjadi USD 1,741.65 per ons. Selama sesi itu mencapai tertinggi sejak November 2012 di USD 1,751.25. Emas telah naik lebih dari 2 persen dalam minggu ini.

Sedangkan harga emas berjangka AS naik 0,9 persen ke level USD 1,756.30.

"Sementara permintaan fisik yang lemah dan pembelian bank sentral mungkin telah memperlambat kenaikannya, ada sangat sedikit alasan untuk menjual emas dalam masa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memburuknya hubungan antara kekuatan super ekonomi dunia," kata Tai Wong, Kepala Logam Dasar dan Logam Mulia Perdagangan Derivatif di BMO.

Yang mendasari suramnya ekonomi akibat wabah virus corona adalah data penjualan ritel AS terbaru yang menunjukkan penurunan berturut-turut selama dua bulan.

Ini menambah skenario ekonomi yang suram telah memperbaharui gesekan antara Amerika Serikat dan Cina karena wabah itu.

"Orang-orang enggan untuk mengambil risiko dan masa depan tampaknya tidak pasti ... Emas memberi Anda rasa perlindungan sekarang karena kita akan memasuki periode ini," kata Phil Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

 

2 dari 2 halaman

Manfaat Stimulus Ekonomi bagi Emas

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia
Perbesar
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Virus corona baru, yang telah menginfeksi lebih dari 4,46 juta orang dan membunuh 301.445, telah memukul kegiatan ekonomi global, mendorong bank sentral dan pemerintah untuk mengeluarkan langkah-langkah stimulus besar-besaran.

Emas cenderung mendapat manfaat dari stimulus ekonomi karena secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

Meskipun banyak pemerintah telah mulai melonggarkan pembatasan, langkah ini telah menghidupkan kembali kekhawatiran gelombang infeksi kedua.

"Mengingat semua kekacauan dan kebingungan ini, hampir tidak mengejutkan bahwa ETF emas melihat tingkat minat beli yang tidak berubah," analis di Commerzbank mengatakan dalam sebuah catatan.

"Jika spekulan sekarang juga ikut, emas akan naik dengan cepat menuju angka USD 1.800." lanjut catata tersebut.

Di tempat lain, harga paladium naik 1,9 persen menjadi USD 1,870.28 per ons, tetapi berada di jalur untuk membukukan penurunan mingguan ketujuh secara beruntun. Harga platinum naik 3,2 persen menjadi USD 792,24 per ons, setelah mencapai tertinggi sejak 13 Maret di USD 796.

Sedangkan perak 4,3 persenlebih tinggi USD 16,55. Menyentuh puncak lebih dari dua bulan yang sebesar USD 16,71.

Lanjutkan Membaca ↓