Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 5.787 Triliun di Kuartal I-2020

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 15 Mei 2020, 11:13 WIB
Diperbarui 15 Mei 2020, 12:17 WIB
utang-indonesia-121106b.jpg

Liputan6.com, Jakarta Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai USD 389,3 miliar (Rp 5.787 triliun) pada akhir kuarta I 2020. Utang ini terdiri dari sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) sebesar USD 183,8 miliar dan swasta (termasuk BUMN) sebesar USD 205,5 miliar. 

ULN Indonesia tersebut turun tumbuh 0,5 persen (yoy), dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 7,8 persen (yoy). "Perkembangan tersebut disebabkan oleh penurunan ULN publik dan perlambatan pertumbuhan ULN swasta," mengutip keterangan BI, Jumat (15/5/2020).

Adapun posisi utang luar negeri pemerintah pada akhir kuartal I 2020 tercatat sebesar USD 181,0 miliar atau terkontraksi -3,6 persen (yoy), berbalik dari kondisi kuartal sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,1% (yoy).

Penurunan posisi ULN Pemerintah tersebut antara lain dipengaruhi oleh arus modal keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pembayaran SBN yang telah jatuh tempo.

Pengelolaan ULN Pemerintah dilakukan secara hati-hati dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas pada sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Sektor produktif tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,1 persen dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,3 persen), sektor jasa pendidikan (16 persen), sektor jasa keuangan dan asuransi (13,3 persen), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,5 persen).

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," menurut keterangan BI.

 

2 dari 2 halaman

Utang swasta

Ilustrasi uang dolar Amerika Serikat. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)
Ilustrasi utang. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

ULN swasta pada akhir kuartal I 2020 tumbuh 4,5 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kuartalsebelumnya sebesar 6,6 persen (yoy).

Perkembangan ini disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan dan melambatnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan.

Pada akhir triwulan I 2020, ULN lembaga keuangan terkontraksi -2,3 persen (yoy), berbalik arah dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 3,6 persen (yoy).

ULN perusahaan bukan lembaga keuangan juga tumbuh melambat dari 7,6 persen (yoy) pada triwulan IV 2019 menjadi 6,7 persen (yoy) pada kuartal I 2020.

Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, yakni mencapai 77,7 persen dari total ULN swasta, adalah sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas & udara dingin (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor industri pengolahan.

Struktur ULN Indonesia dinilai tetap sehat, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal I 2020 sebesar 34,5 persen, turun dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya sebesar 36,2 persen.

Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,4 persen dari total ULN.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓