Hanya 33 Persen Puskesmas yang Penuhi Syarat Layanan Kesehatan

Oleh Liputan6.com pada 12 Mei 2020, 11:50 WIB
Diperbarui 12 Mei 2020, 11:50 WIB
Pemprov Aceh Akhirnya Bolehkan Vaksinasi MR
Perbesar
Petugas menyuntikan Vaksin Campak dan Rubella (MR) kepada bayi saat dilakukan imunisasi di sebuah puskesmas, Banda Aceh, Rabu (19/9). Pemerintah Aceh memperbolehkan penggunaan vaksin MR dengan alasan dalam kondisi darurat. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Suharso Monoarfa meminta kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk memperhatikan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang ada di sejumlah daerah. Sebab, menurutnya salah satu ujung tombak sistem kesehatan nasional berada di Puskesmas.

"Titipan saya ke Bappeda di seluruh indonesia, tolong diperhatikan dengan baik Puskesmas. Puskesmas ujung tombak pelayanan kesehatan yang utamanya melakukan promotik dan kecukupan pemenuhan atas tenaga kesehatan harus diperhatikan," kata dia di Jakarta, Selasa (12/5).

Dia mencatat, hanya ada sekitar 33 persen Puskesmas yang memenuhi syarat dari seluruh Puskesmas ada di Indonesia. Tentunya, ini menjadi perhatian bersama antara pemerintah pusat maupun di daerah.

"Ini pekerjaan rumah bersama, utamanya untuk Ketua Bappeda di Indonesia untuk hitung kembali," kata dia.

Dia menambahkan, banyak alat-alat kesehatan di Puskesmas yang senantiasa dibeli melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) namun tidak terlalu dibituhkan. Dorongan dari beberapa pihak luar kemudian mengharuskan beberapa alat kesehatan itu tetap dibeli. "Kadang alat kesehatan tidak dibutuhkan, tapi mungkin didorong sedemikian rupa sehingga dibeli," imbuh dia.

"Jadi untuk penguatan promotif dan preventif penting sekali dari sistem kesehatan kita dalam hal ini Puskesmas," tandas dia.

Seperti diketahui, reformasi sistem kesehatan nasional menjadi salah satu bagian dari Rancangan Kerja Pemerintah (RKP) di tahun 2021. Adapun fokus RKP kali ini akan diarahkan untuk pemulihan sosial ekonomi guna mengejar target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk periode 2020-2024.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Pemkot Tangerang Jadikan 2 Puskesmas Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Jenazah tukang becak yang meninggal dunia di emper toko dievakuasi ke Puskesmas dan lantas dirujuk ke RSUD Margono untuk autopsi. (Foto: Dok. Tagana Banyumas/Liputan6.com/Ridlo)
Perbesar
Jenazah tukang becak yang meninggal dunia di emper toko dievakuasi ke Puskesmas dan lantas dirujuk ke RSUD Margono untuk autopsi. (Foto: Dok. Tagana Banyumas/Liputan6.com/Ridlo)

Dua Puskesmas di Kota Tangerang, yakni Puskesmas Panunggangan Barat Cibodas dan Puskesmas Gebang Raya di Kecamatan Periuk, akan dijadikan Rumah Singgah Isolasi untuk pasien Covid-19.

"Keduanya menjadi tempat rujukan bagi masyarakat yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP), Orang Tanpa Gejala (OTG) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang tidak memiliki penyakit penyerta," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Liza Puspadewi, Selasa (5/5/2020).

Liza menjelaskan, dipilihnya kedua puskesmas tersebut karena memiliki jangkauan wilayah yang kecil, yaitu hanya melayani satu kelurahan, ditambah fasilitas puskesmas rawat inap tersebut sudah memadai untuk dijadikan rumah singgah isolasi Covid-19.

"Fasilitas yang dimiliki juga sudah cukup memadai untuk melayani pasien Covid-19 dengan status ODP, OTG atau PDP tanpa penyakit penyerta," katanya.

Kepala Puskesmas Panunggangan Barat Abu Khurairoh mengatakan, tempatnya memiliki kapasitas sebanyak 36 tempat tidur, yang dibagi menjadi 9 ruang isolasi. Dengan masing-masing ruang isolasi mempunyai kapasitas dua sampai 10 tempat tidur.

"Saat ini sudah terisi 6 pasien. Kami juga klusterkan pasien berdasarkan jenis kelamin dan statusnya, agar tetap nyaman," kata Abu.

Lanjutkan Membaca ↓