Menteri ESDM: Harga BBM Indonesia Termurah di ASEAN

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 04 Mei 2020, 13:15 WIB
Diperbarui 04 Mei 2020, 13:15 WIB
Bahas Pengelolaan Sampah, Menteri ESDM Temui Pimpinan KPK

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah dunia yang terus tertekan membuat sejumlah negara menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) lebih dari 50 persen. Namun hal tersebut tak berlaku di Indonesia, dimana harga BBM belum kunjung turun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, harga BBM di Indonesia masih lebih murah dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

"Kita bukan yang termahal di Negara ASEAN. Volume kita juga turun signifikan. Pemerintah tetap mempertahankan kebijaksanaan kebijakan untuk BBM tertentu seperti premium, ucap Arifin saat mengadaka rapat virtual dengan Komisi VII DPR RI, Senin (4/5/2020).

Dia lalu membuat perbandingan, BBM di Indonesia dipasarkan dalam 8 jenis, sementara negara ASEAN lain hanya 4-5 jenis saja. Pemerintah disebutnya juga telah memberikan subsidi untuk beberapa jenis BBM, seperti solar dan bensin. Begitu juga Pertalite, yang meski tak disubsidi namun harganya tidak tinggi.

"Untuk bensin kita masih ada di pertengahan. Kemudian juga Pertalite. Biar tidak disubsidi tapi telah lakukan sacrificing price. Di Filipina BBM sejenis Pertalite Rp 10 ribu (per liter), Laos Rp 14 ribu (per liter)," tuturnya.

Arifin melanjutkan, pemerintah sebenarnya pada tahun ini juga sudah dua kali menurunkan harga, meski pada saat bersamaan hubungan antar negara besar pengekspor minyak yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) seperti Arab Saudi dan Rusia tengah memanas.

Sebagai catatan, penurunan harga BBM sebanyak dua kali pada Januari dan Februari 2020 tersebut terjadi saat formula harga jual BBM masih berpatok pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM lama Nomor 187K/MEM/2019 yang diteken pada 7 Oktober 2019 oleh Menteri ESDM saat itu, Ignasius Jonan.

Saat ini, penentuan harga minyak telah berpatok pada Kepmen ESDM Nomor 62K/MEM/2020 yang diteken pada 28 Februari 2020 dan berlaku per 1 Maret 2020.

"Kami sendiri di Indonesia kita sebetulnya sebelum terjadi pandemi, perang crude palm oil antara OPEC dan non-OPEC, 5 januari kita sudah turunkan harga. Sebagai catatan, sebelum diturunkan harga BBM kita tercatat paling murah di region ASEAN. Februari juga RON 95 dan 98 dilakukan pemangkasan harga karena ada penurunan indeks gasoline," papar Arifin.

2 dari 2 halaman

HMI Dorong Pertamina Turunkan Harga BBM untuk Ringankan Beban Hidup Rakyat

Pertamina Mulai Sediakan Solar Campur Minyak Sawit
Mesin pompa pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Jakarta, Selasa (26/11/2019). PT Pertamina (Persero) mulai menyediakan solar dengan kandungan 30 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang berbahan baku minyak sawit bagi sektor transportasi maupun sektor industri. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, menyikapi lambannya sikap PT Pertamina Persero dalam menindaklanjuti permintaan Presiden Joko Widodo yang meminta agar segera melakukan review harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mendesak PT Pertamina untuk segera menurunkan harga BBM.

"Kita semua mengetahui, bahwa apa yang secara jelas diinstruksikan oleh Presiden tersebut belum sepenuhnya ditindaklanjuti oleh PT Pertamina hingga detik ini," tegas Pj. Ketua Umum Arya Kharisma Hardy di Jakarta, pada Minggu 26 April 2020.

Sebagai BUMN, menurut Arya, PT Pertamina seharusnya memiliki sensitivitas kebangsaan yang cukup agar bisa turut merasakan beratnya tekanan ekonomi masyarakat menengah-bawah yang secara ekonomi sangat ditentukan pada fluktuasi harga BBM dan turunannya.

Sementara di negara tetangga, lanjut dia, masyarakatnya sedang menikmati harga BBM dan biaya hidup lainnya dengan harga yang sangat murah.

"Tidak terlalu sulit bagi PT Pertamina untuk sedikit merelakan pendapatannya dalam rangka meringankan beban hidup jutaan kaum buruh, petani, nelayan dan pedagang yang semakin mengkhawatirkan hari-hari ini," ungkap Arya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa, penurunan harga BBM akan menjadi harapan satu-satunya ketika ancaman inflasi dan bahkan resesi ekonomi yang sebentar lagi menggerogoti ekonomi global.

"PT Pertamina bersama Kementerian ESDM diharapkan untuk patuh terhadap instruksi Bapak Presiden. Jangan sampai janji presiden justru menjadi pepesan kosong bagi rakyat," ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓