Harga Bawang Merah di Cirebon Naik hingga 50 Persen

Oleh Liputan6.com pada 28 Apr 2020, 12:30 WIB
Diperbarui 28 Apr 2020, 12:30 WIB
Harga Bawang di Pasar Kramat Jati
Perbesar
Pedagang menjajakan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (2/4/2019). Sejumlah pedagang di Pasar Induk Kramat Jati mengaku harga bawang merah dan bawang putih relatif stabil, meskipun terjadi kenaikan harga di beberapa daerah. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Harga bawang merah di pasar tradisional Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, meroket naik hingga 50 persen atau mencapai Rp 57 ribu per kilogram (KG). Lonjakan harga bumbu dapur tersebut akibat berkurangnya pasokan dari sejumlah wilayah penghasil bawang.

"Paling mahal bawang merah. Biasanya cuma Rp 28.000 per kg, sekarang mahal," ujar Amriah seorang penjual bumbu dapur di Pasar Arjawinangun, Cirebon, kepada Merdeka.com Selasa (28/4/2020).

Menurut perempuan paru bayah tersebut, kenaikan bawang merah disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari wilayah sentra bawang seperti Brebes hingga Demak, Jawa Tengah.

Bahkan, tingginya harga bawang merah menyebabkan turunnya pendapatan usaha hingga 30 persen. Sebab, mayoritas konsumen mengurangi jumlah pembelian bawang merah yang sedang tinggi.

"Dari bawang merah saja dapatlah minimal Rp 200 ribu sekarang paling cuma Rp140 ribu. Yang beli kan pada ngurangin jumlah pembeliannya," jelas dia.

Amriah pun berharap pemerintah serta dinas terkait segera mencari solusi untuk menekan harga jual bawang merah yang kian meroket. Imbasnya daya beli masyarakat akan bawang merah kembali meningkat sehingga aktivitas penjualan bumbu dapur favorit tersebut kembali normal.

 

2 dari 3 halaman

Operasi Pasar

Produksi Berlimpah Ekspor Bawang Merah Probolinggo Serbu Thailand
Perbesar
Sebanyak 165 ton bawang merah Probolinggo dilepas menuju negara Thailand. Kementerian Pertanian melalui Balai Karantina Pertanian Surabaya bersama PT. Cipta Makmur Sentausa melakukan ekspor perdana tahun 2019 bawang merah dari Probolinggo.

Sementara itu, penjual bumbu dapur lainnya Nining mengatakan hal serupa, karena hampir semua penjual bawang merah mengambil pasokan dari wilayah Jawa Tengah karena jarak tempuh yang lebih dekat dengan Kabupaten Cirebon.

"Kalo pedagang satu naik, otomatis pedagang lainnya bakal naik juga. Ya harga bawang bakal sama," ujarnya

Pun Nining berharap pemerintah segera melakukan operasi pasar bulan Ramadan agar membuat harga jual bawang merah kembali stabil dipasaran.

Sedangkan, Arsini seorang ibu rumah tangga mengeluhkan tingginya harga bawang merah. Terlebih bawang merupakan bumbu dapur utama untuk memasak berbagai hidangan nusantara.

"Sekarang satu kilogram bawang merah sudah Rp 50 ribu lebih. Belum bahan sembako lainnya," keluh dia.

Menurutnya lonjakan harga bawang hingga 50 persen lebih membuat beban ekonomi keluarga kian bertambah ditengah wabah virus corona. Terlebih bagi masyarakat pedesaan yang mengandalkan pendapatan dari kegiatan bercocok tanam.

 

3 dari 3 halaman

Produksi Cukup

20160810-Ditjen-Hortikultura-Kementan-Buka-Kios-Komoditas-Murah-Jakarta-YR
Perbesar
Petugas melayani warga yang membeli bawang merah dengan harga murah, Jakarta, Rabu (10/8/2016). Kementerian Pertanian menggelar kios pasar murah dengan menjual bawang merah dengan harga Rp 26.000/kg. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Sebelumnya, Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Risfaheri, mengungkapkan bahwa produksi bawang merah cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Kendati begitu, diakuinya bahwa daerah penghasil utama bawang merah yakni kota Cirebon dan Brebes memang sedang tidak panen. Beruntung wilayah sentra lainnya seperti Demak, Enrekang dan Sulawesi Selatan tengah panen raya bawang merah, bahkan di Demak bawang merah hanya dibanderol Rp 27 ribu  per kg.

"Jika pasokan tidak cukup dan harga masih tinggi (DKI Jakarta) bisa didatangkan dari Enrekang dengan kapal laut," terangnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓