Wall Street Menghijau Terdongkrak Kenaikan Harga Minyak Dunia

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 25 Apr 2020, 06:30 WIB
Diperbarui 25 Apr 2020, 06:30 WIB
Wallstreet

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan saham naik pada penutupan hari Jumat karena harga minyak kembali bangkit dari keterpurukannya. Sementara investor mempertimbangkan prospek pengobatan virus corona yang potensial dari Gilead Sciences.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (25/4/2020), Dow Jones Industrial Average ditutup 260,01 poin lebih tinggi, atau naik 1,1 persen, pada 23.775,27. S&P 500 naik 1,4 persen menjadi ditutup pada 2.836,74. Sementara Nasdaq Composite naik 1,7 persen menjadi 8.634,52. Teknologi adalah sektor dengan kinerja terbaik di S&P 500, karena Apple naik lebih dari 2 persen.

Namun untuk minggu ini, Dow turun 1,9 persen sementara S&P 500 turun lebih dari 1 persen. Nasdaq turun 0,2 persen minggu ini. Itu adalah penurunan mingguan pertama Wall Street dalam tiga pekan terakhir.

Minyak mentah berjangka AS naik 2,7 persen menjadi menetap di USD 16,94 per barel di tengah harapan bahwa AS akan mengurangi beberapa produksi untuk memperhitungkan menyusutnya permintaan dan kapasitas penyimpanan.

Namun, kontrak berjangka West Texas Intermediate turun lebih dari 30 persen minggu ini karena para pedagang membuang minyak. Pada hari Senin, kontrak berjangka WTI untuk Mei diperdagangkan dengan harga negatif untuk pertama kalinya.

"Ke depan, masih semua tentang permintaan minyak sekarang, dan sejauh ini ada sedikit bukti untuk mendukung gagasan bahwa pertumbuhan konsumen akan pulih dalam waktu dekat," kata Tom Essaye, pendiri The Sevens Report.

 

 

2 dari 2 halaman

Uji Vaksin Corona Gagal

Wallstreet 2
Wallstreet

Wall Street sempat liar pada hari Kamis, dipicu oleh laporan Financial Times yang mengatakan obat remdesivir Gilead Sciences tidak memperbaiki kondisi pasien virus corona. FT mengutip dokumen yang secara tidak sengaja diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia mengenai uji klinis di China.

Gilead mencatat bahwa penelitian dihentikan lebih awal karena rendahnya pengaruh vaksin tersebut dalam penyembuhan penderita virus corona.

Lanjutkan Membaca ↓