Gara-Gara Corona, Industri Pariwisata Bali Anjlok 93 Persen

Oleh Athika Rahma pada 24 Apr 2020, 19:15 WIB
Diperbarui 24 Apr 2020, 19:15 WIB
Melihat Para Turis Berlibur di Pantai Kuta Bali

Liputan6.com, Jakarta Pandemi Corona memukul keras pertahanan industri pariwisata Indonesia. Bali menjadi salah satu destinasi terdepan yang terhantam pukulan tersebut.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyatakan, Bali sedang sangat terpuruk dimana seluruh pelayanan oversupply karena tidak ada wisatawan.

"Covid-19 ini, seluruh provinsi mungkin yang paling terdampak 90 persen di pariwisata. Sekarang kita oversupply, kondisi Bali sangat terpuruk," ujar pria yang akrab disapa Cok Ace tersebut via diskusi daring, Jumat (24/4/2020).

Dan ternyata, data Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali mencatat potensi kerugian sektor pariwisata di Bali dari leisure dan mice mencapai USD 9 miliar atau sekitar Rp 140 triliun (kurs Rp 15.639).

"Jadi bisa dilihat potensi lost leisure dan mice ini mencapai USD 9 miliar, dan yang paling besar itu China dan Australia mereka bisa per hari datang 9.000 hingga 10.000 wisman per hari," kata Ketua DPD GIPI Bali Agung Artha.

Agung menambahkan, secara keseluruhan, pariwisata di Bali anjlok hingga 93,24 persen. Jika dirinci, per Januari 2020 pariwisata Bali naik 11 persen year-on-year (yoy) dari 346.113 wisatawan menjadi 384.343 wisatawan.

 

2 dari 2 halaman

Februari Mulai Turun

Bermain Surfing di Pantai Kuta
Turis berselancar di pantai Kuta dekat Denpasar di pulau resor Indonesia di Bali (3/5). Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal tahun 1970-an. (AFP Photo/Sonny Tumbelaka)

Pada Februari turun 18 persen yoy, Maret turun 42,32 persen dan per April anjlok hingga 93,24 persen dari 737.774 wisatawan menjadi hanya 49.908 wisatawan saja.

Agung menyatakan, ketika pandemi berakhir, industri pariwisata Bali akan fokus menyasar wisatawan domestik, sedangkan wisatawan mancanegara kemungkinan baru bisa optimal tahun depan.

"Misalnya ada keluarga yang mau berlibur bersama di Bali, itu sasaran kita. Untuk lain seperti Malayasia dan Singapura itu tahun depan," ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓