500 Ribu Miliarder AS Harus Rela Hilang Harta Gara-gara Virus Corona

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 27 Apr 2020, 20:00 WIB
Diperbarui 27 Apr 2020, 22:18 WIB
Ilustrasi miliarder (iStock)
Perbesar
Ilustrasi miliarder (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Jumlah miliarder di Amerika Serikat (AS) anjlok dari rekor tertinggi gara-gara krisis finansial akibat wabah pandemi virus corona (Covid-19) yang secara perlahan menghancurkan kekayaan orang-orang terkaya di Negeri Paman Sam.

Pada akhir 2019 lalu, tercatat ada sekitar 11 juta miliarder di AS yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah. Menurut sebuah studi baru yang dikeluarkan perusahaan riset Spectrem Group, hal tersebut merupakan buah hasil dari ekspansi ekonomi selama 11 tahun, pemotongan pajak hingga pengenaan suku bunga yang sangat rendah.

Seperti dilansir dari CNBC, Senin (27/4/2020), jumlah orang terkaya itu kini terpangkas setidaknya 500 ribu. Golongan sejahtera tersebut terkena imbas kejatuhan pasar saham lantaran mereka punya lebih banyak saham dibanding seluruh pemain lain.

Berdasarkan data Federal Reserve, sebanyak 1 persen pelaku teratas memiliki sekitar 53,5 persen saham dan reksa dana. Kerugian tersebut mempengaruhi orang kaya di semua tingkatan, mulai dari yang memiliki aset lebih dari USD 1 juta hingga di atas USD 25 juta.  

Tak hanya di Amerika, pandemi corona ternyata sangat mempengaruhi nilai aset miliarder dunia. Menurut Bloomberg Billionaire Index, 500 orang terkaya di planet ini telah kehilangan hampir USD 1,3 triliun sejak awal tahun. Itu mendekati penurunan 21,6 persen dari kekayaan bersih kolektif mereka.
 
Tentu saja, warga Amerika biasa cenderung mengalami dampak yang lebih parah dari wabah pandemi ini. Sebagai catatan, AS pada Selasa (21/4/2020) kemarin masih kokoh menduduki posisi teratas sebagai negara dengan jumlah positif corona terbanyak, yakni hampir menyentuh 800 ribu kasus.
 
Pada pertengahan Maret lalu, Goldman Sachs memperkirakan ada sekitar 2,25 juta warga Amerika yang kehilangan pekerjaan akibat Covid-19. Angka tersebut diyakini akan melampaui rekor pemutusan hubungan kerja (PHK) terbanyak di negara tersebut, yakni 695 ribu kasus pada 1982.
 
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan, jumlah warga yang mengajukan permohonan untuk tunjangan pengangguran melonjak. Angka tersebut diperkirakan akan terus meroket selama kegiatan ekonomi terhenti akibat virus corona.
2 dari 2 halaman

Pandemi Bawa Pria Mantan Pedagang Daging Beku Ini Jadi Miliarder

banner infografis
Perbesar
Ilustrasi Miliarder (Liputan6.com/Deisy)

Awalnya, Lim Hock Chee dan sang istri hanyalah penjual daging babi beku di kios sewaan pada sebuah toko grosir. Siapa disangka, lebih dari 35 tahun kemudian, keluarganya kini menguasai 61 supermarket yang ada di Singapura dan masuk jajaran orang terkaya negara itu bahkan dunia.

Saham Sheng Siong Group Ltd., bahkan mampu bersaing dengan Amazon.com Inc. Saham perusahaan mencetak rekor, dengan naik lebih dari 30 persen sejak penutupan terendah di 19 Maret 2020.

Kenaikan saham dipicu meningkatnya masyarakat berbelanja supermarket, di tengah langkah pemerintah memberlakukan kebijakan lockdown demi mencegah Virus Corona. 

Bahkan kekayaan total keluarga, di mana 57 persen dipegang Lim dan dua saudara lelakinya, telah melonjak menjadi USD 1,1 miliar (Rp 17,2 triliun), menurut Bloomberg Billionaires Index.

Bisnis Lim mulai berkembang ketika dia dan saudaranya mengambil alih supermarket tempat kios dagingnya berada dan mengubahnya menjadi toko Sheng Siong pertama pada 1985. Kini, tak hanya supermarket, bisnis mereka juga menjamah ke dunia perbankan digital di Singapura.

Namun juru bicara Sheng Siong mengatakan jika keluarga ini menolak mengomentari lonjakan kekayaannya. Memang, keluarga ini pernah menjadi sorotan media pada tahun 2014, ketika ibu mereka diculik.

Meski akhirnya sang ibu dibebaskan tanpa cedera setelah Lim membayar tebusan, dan penculiknya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Lim diketahui menambah kepemilikan saham pada bulan lalu melalui rekening bersama dengan istrinya. Dia mungkin telah belajar satu atau dua hal dari wabah sebelumnya.

"Ketika orang-orang menjauh dari restoran selama SARS, kami menikmati bisnis yang tumbuh karena lebih banyak orang mulai membeli makanan untuk memasak di rumah," katanya dalam wawancara 2008 dengan Straits Times.

Diketahui, perusahaan Lim mampu membukukan laba bersih sebesar SDG 75,8 juta (USD 53,1 juta) pada 2019, dengan pendapatan sebesar SDG 991,3 juta.

 

Lanjutkan Membaca ↓