Harga Minyak Minus, Saatnya Indonesia Impor Sebanyak-banyaknya

Oleh Tira Santia pada 21 Apr 2020, 11:40 WIB
Diperbarui 21 Apr 2020, 11:40 WIB
Ini Setiap Kali Perusahaan Hulu Migas Investasi US$1
Perbesar
Perusahaan-perusahaan hulu migas sering dianggap hanya berperan menyediakan pasokan energi dan menghasilkan penerimaan negara

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat energi dari Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, penurunan harga minyak dan gas, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) menjadi negatif USD 37,63 per barel, hanya sementara.

“Saya kira penurunan sampai ke titik minus hanya sementara di karenakan para trader sedang menghabiskan stok untuk kontrak bulan Mei mengingat ini ada minggu terakhir. Pagi ini saya sudah melihat sudah ke arah positif kembali,” kata Mamit kepada liputan6.com, Selasa (21/4/2020).

Lanjutnya, yang terjerembab itu harga WTI, sedangkan harga acuan Indonesia adalah Brent masih berada di level USD 26 per barel. Dengan begitu anjloknya harga minyak dunia, menurutnya ini merupakan kesempatan Indonesia untuk melakukan impor minyak sebanyak mungkin, karena jika memproduksi sendiri dengan kilang Indonesia biayanya akan lebih tinggi.

“Mengingat kilang-kilang kita cukup kompleks dan sudah berusia tua. Apa yang dilakukan Pertamina dengan meng-shutdown beberapa kilang mereka saya kira merupakan langkah efisiensi yang dilakukan oleh Pertamina,” jelasnya.

Selain itu, implikasinya ia memperkirakan bulan depan akan ada penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terutama BBM Umum mengingat sesuai dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 62/2020 bahwa badan usaha melakukan evaluasi harga dari tanggal 25, 2 bulan sebelummya sampai tanggal 24 bulan berjalan.

Maka dengan demikian harusnya awal Mei akan ada penurunan harga. Untuk BBM Premium karena ini penugasan, ia mengatakan belum bisa memastikan meskipun dalam KepMen ESDM 62/2019 di atur bahwa perubahan harga dimulai tanggal 25 sampai tanggal 24 bulan sebelumnya karena ini sampai ke kementrian Koordinator Bidang Perekonomian yang memutuskannya.

“Saya kira memang akan tidak signifikan karena saat ini penggunaan BBM saja turun 30 persen. Masyarakat juga banyak WFH dan industri juga masih banyak yang belum berjalan secara normal. Tapi karena desakan masyarakat, saya kira pemerintah pasti akan menurunkan harga BBM terutama untuk BBM Umum. Setidaknya masyarakat bisa terbantu dengan penurunan tersebut,” jelasnya.

 

Tarif Listrik

lustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Sementara, untuk tarif listrik ia perkirakan merupakan berkah bagi PLN karena dalam menentukan BPP mereka ada salah satu komponennya ICP.

“Dengan rendahnya harga minyak,saya pastikan ICP kita bulan April akan lebih rendah dari bulan Maret,bahkan mungkin ICP April kita bisa di bawah USD 30 per barelnya. Tinggal nanti PLN berhitung kembali apakah mereka dalam posisi untung atau tetap merugi karena tarif listrik sudah cukup lama tidak naik. Disisi lain, mata uang kita terus melemah dah ini menanjadi beban yang besar bagi PLN,” ujarnya.

Selain itu,dengan rendahnya harga minyak ini secara pendapatan negara akan sangat berpengaruh mengingat migas adalah penyumbang terbesar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dengan semakin turunnya harga,maka bisa dipastikan akan turun juga.

Selanjutnya, untuk sektor Hulu ia perkirakan ini yang paling terdampak. Kegiatan hulu migas Indonesia banyak yang akan terhenti mengingat rendahnya harga. Target lifting migas nasional juga tidak akan tercapai.

“Kegiatan explorasi akan terganggu sehingga cadangan migas kita tidak akan bertambah,” pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓