Wall Street Anjlok karena Harga Minyak Jatuh ke Level yang Belum Pernah Terjadi

Oleh Arthur Gideon pada 21 Apr 2020, 07:05 WIB
Diperbarui 21 Apr 2020, 07:14 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street tertekan ke level terdalam dalam enam pekan. Investor gelisah karena harga minyak jatuh ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, beberapa kinerja emiten juga mengalami penurunan.

Mengutip Bloomberg, Selasa (21/4/2020), Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 592,05 poin atau 2,44 persen ke level 23.650,44. Untuk S&P 500 juga melemah 51,40 poin atau 1,79 persen ke level 2.823,16. Sedangkan Nasdaq tertekan 89,41 poin atau 1,03 persen ke level 8.560,73.

Saham Chevron dan Exxon memimpin kerugian dalam indeks blue-chip karena harga minyak berjangka AS berubah negatif untuk pertama kalinya, terutama karena akhir kontrak Mei memaksa penerimaan fisik pada saat kapasitas penyimpanan rendah.

"Jika ada satu hal yang pasti tentang minyak adalah harganya yang sangat tidak dapat diprediksi, terutama karena harga benar-benar ditentukan di pasar berjangka," kata direktur E*Trade Financial Rick Swope.

"Ketika berbicara tentang minyak, ekspektasi sering menentukan kenyataan." tambah dia.

Setelah penutupan perdagangan, IBM melaporkan penurunan pendapatan di kuartal I 2020 dan menarik perkiraan labanya untuk tahun ini.

Sementara itu, Kongres AS terus menegosiasikan RUU belanja baru untuk mengimbangi dampak pandemi Corona, dan muncul tanda-tanda bahwa New York telah melewati masa terburuk wabahnya.

2 dari 2 halaman

Harga Minyak AS Negatif USD 37,63 per Barel

lustrasi tambang migas
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Sejarah baru di sektor minyak dan gas (migas). Kontrak berjangka untuk harga minyak mentah Amerika Serikat (AS)turun lebih dari 100 persen dan berubah negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah pada perdagangan Senin. Hal ini menunjukkan seberapa turunnya permintaan minyak dunia akibat dari pandemi Corona.

Namun para pedagang mengingatkan bahwa runtuhnya harga minyak ke level negatif ini tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya di pasar minyak. Harga kontrak berjangka yang turun hingga negatif ini untuk pengiriman Mei yang kontraknya akan berakhir pada perdagangan Selasa. Sedangkan untuk kontrak bulan berikutnya masih diperdagangkan di atas USD 20 per barel.

Mengutip CNBC, Selasa (21/4/2020), harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun lebih dari 100 persen menjadi menetap di negatif USD 37,63 per barel, yang berarti produsen akan membayar pedagang untuk mengambil minyak dari tangan mereka.

Harga negatif ini belum pernah terjadi sebelumnya untuk kontrak berjangka. Kontrak berjanhka minyak WTI untuk pengiriman Juni, yang berakhir pada 19 Mei, turun sekitar 18 persen menjadi USD 20,43 per barel. Kontrak ini, yang lebih aktif diperdagangkan, merupakan cerminan yang lebih baik dari kenyataan di pasar minyak.

Untuk kontrak Juli turun 11 persen ke level USD 26,18 per barel.

Sedangkan patokan internasional, minyak mentah Brent, yang telah bergulir ke kontrak Juni, harganya turun 8,9 persen ke level USD 25,57 per barel.

Harga minyak untuk kontak Mei jatuh dalam karena pengiriman banyak dibekukan akibat lockdown sebagai dampak dari pengendalian virus Corona.

Satu-satunya pembeli minyak berjangka untuk kontrak itu adalah entitas yang ingin secara fisik menerima pengiriman minyak seperti kilang atau maskapai penerbangan. Tetapi permintaan telah turun dan tangki penyimpanan diisi, sehingga mereka tidak membutuhkannya.

Lanjutkan Membaca ↓