Harga Minyak Tetap Anjlok Meski OPEC Pangkas Produksi Terbesar dalam Sejarah

Oleh Arthur Gideon pada 14 Apr 2020, 07:20 WIB
Diperbarui 14 Apr 2020, 07:20 WIB
lustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi Waktu Jakarta), karena kekhawatiran akan kelebihan pasokan. Kekhawatiran ini tetap ada meskipun OPEC dan sekutu telah setuju memotong produksi sebesar 9,7 juta barel per hari.

Kesepakatan pemotongan produksi ini selesai pada hari Minggu setelah diskusi maraton yang berlangsung selama empat hari. Angka pemangkasan produksi ini terbesar dalam sejarah.

Mengutip CNBC, Selasa (14/4/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 1,54 persen menjadi bertengger di level USD 22,41 per barel. Sementara patokan internasional, minyak mentah Brent naik 33 sen menjadi USD 31,81 per barel.

OPEC dan beberapa negara sekutu seperti Rusia atau sering disebut OPEC+ awalnya mengusulkan pengurangan produksi sebesar 10 juta barel per hari. ANgka ini sekitar 10 persen dari pasokan minyak global. Namun Meksiko menentang jumlah yang diminta untuk dipotong sehingga kesepakatan tak terjadi.

Pada perundingan hari berikutnya, akhirnya kesepakatan yang disetujui adalah pemotongan produksi minyak 9,7 juta barel per hari.

Di dalam perjanjian ini, Meksiko akan memangkas 100 ribu barel per hari. Sedangkan di alokasi awal pemotongannya sebesar 400 ribu barel per hari.

 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Tahapan Pemotongan Produksi

Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Pemotongan 9,7 juta barel per hari akan dimulai pada 1 Mei, dan akan diperpanjang hingga akhir Juni. Pemotongan kemudian akan meruncing menjadi 7,7 juta barel per hari mulai Juli hingga akhir 2020. Kemudian pemotongan 5,8 juta barel per hari mulai Januari 2021 hingga April 2022.

Kelompok yang beranggotakan 23 negara akan bertemu lagi pada 10 Juni untuk menentukan apakah diperlukan tindakan lebih lanjut.

“Pemotongan dengan jumlah sebesar ini merupakan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata analis Citi Ed Morse.

Morse mengatakan pemotongan akan memiliki dampak yang signifikan pada paruh kedua tahun ini dan membantu mengangkat harga ke USD 40 per barel pada akhir tahun.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by