Dow Jones dan S&P 500 Tertekan, Nasdaq Melonjak

Oleh Arthur Gideon pada 14 Apr 2020, 06:30 WIB
Diperbarui 14 Apr 2020, 06:56 WIB
Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street bergerak di dua arah pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 terjatuh. Namun Nasdaq mampu menghijau.

Investor terus menimbang dapak dari pandemi Corona ini terhadap kinerja emiten. Dalam waktu dekat beberapa perusahaan akan mengumumkan kinerjanya.

Mengutip CNBC, Selasa (14/4/2020), Dow Jones ditutup turun 328,60 poin atau 1,4 persen lebih rendah ke level 23.390,77. Sedangkan untuk S&P 500 turun 1 persen menjadi 2.761,63.

Caterpillar menjadi saham berkinerja terburuk di Dow jones dengan jatuh lebih dari 8 persen. Caterpillar jatuh didorong karena adanya penurunan peringkat dari analis Bank of America.

Sektor keuangan dan real estat memimpin kejatuhan S&P 500, dengan kedua sektor jatuh lebih dari 3,5 persen.

Kebalikannya, indeks acuan Nasdaq Composite yang banyak terdapat saham-saham di sektor teknologi melawan tren negatif pasar dengan naik 0,5 persen menjadi 8.192,42.

Pendorong kenaikan indeks tersebut karena Netflix melonjak 7 persen ke level tertinggi dalam 52 minggu. Sementara Amazon naik 6,2 persen. Intel naik 2,7 persen dan Advanced Micro Devices naik lebih dari 5 persen.

Pergerakan Wall Street di Senin ini terjadi setelah sebelumnya membukukan kenaikan mingguan terbesarnya. Dow Jones membukukan kinerja mingguan ketujuh terbaiknya dengan reli 12,7 persen. S&P 500 mengalami kenaikan mingguan terbesar sejak 1974 dengan melonjak 12,1 persen.

CFRA Research Sam Stovall menjelaskan, pelaku pasar tengah menikmati keunggulan setelah mengalami tekanan selama berminggu-minggu.

"Beberapa orang mungkin mengatakan kita pada awal bulish, saya pikir kita harus mengambil sikap menunggu dan melihat," kata Stovall.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Penyebaran Corona

FOTO: Kuburan Massal Korban Corona COVID-19 di New York
Truk berisi jenazah menuju kuburan massal di Pulau Hart, Bronx, New York, Amerika Serikat, Kamis (9/4/2020). Banyaknya korban meninggal akibat virus corona COVID-19 di New York membuat pemerintah setempat langsung menggali kuburan massal. (AP Photo/John Minchillo)

Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan dengan santa optimistis bahwa wabah Corona melambat di AS. Dia juga mengatakan beberapa bagian negara di AS akan mulai dibuka kembali bulan depan.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan pada hari Senin bahwa yang terburuk mungkin berakhir “jika kita terus menjadi pintar.”

Namun, Fauci menambahkan ini tidak berarti seluruh negara akan membalik dan kembali normal.

Kasus yang dikonfirmasi di AS sekarang berjumlah lebih dari 560.000, lebih banyak dari negara mana pun di dunia, menurut Universitas Johns Hopkins.

Negara bagian New York menyumbang lebih dari 190.000 kasus. Hitungan kematian di AS dari virus lebih dari 22.000.

“Berbagai upaya mitigasi untuk menahan penyebaran COVID-19 tampaknya berhasil. Apa yang terjadi selanjutnya sangat mengemuka, ”kata Marc Chaikin, CEO Chaikin Analytics.

 

Lanjutkan Membaca ↓