Banyak BUMN Ekspansi Tanpa Analisis Jangka Panjang

Oleh Athika Rahma pada 03 Apr 2020, 19:01 WIB
Diperbarui 03 Apr 2020, 19:01 WIB
Gedung Kementerian BUMN

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memangkas 51 anak dan cucu usaha dari PT Garuda Indonesia Tbk, PT Pertamina dan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. Langkah pemangkasan tersebut sebagai bentuk perampingan jumlah perusahaan yang berada di bawah naungan kementerian.

Pengamat Ekonomi Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita menilai, keputusan Menteri BUMN Erick Thohir dalam memangkas anak usaha BUMN sudah tepat.

Saat ini BUMN memang banyak melakukan ekspansi namun tidak diikuti dengan analisa jangka panjang yang berujung membebani keuangan induk perusahaan.

"BUMN selama ini, kurang fokus mengelola sektor utamanya, gara-gara terlalu banyak anak usaha. Jadi dalam kacamata lain, pemangkasan ini juga berarti mengembalikam BUMN-BUMN pada core business utamanya, yang dimandatkan UU," ujar Ronny, sebagaimana dikutip dari keterangannya, Jumat (3/4/2020).

Lebih lanjut, di tengah wabah Corona saat ini, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan terutama dalam mengatur BUMN tidak mudah. BUMN sendiri berperan penting dalam membantu pemerintah menyelesaikan persoalan penyebaran virus yang membuat ekonomi tertatih.

Adapun selama ini, penyelesaian dan penanganan Corona sudah menjadi tanggung jawab Task Force yang dikomandoi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Kalau banyak BUMN yang mengalihkan CSR nya ke bantuan alat kesehatan penanggulangan Covid-19, saya pikir itu lumrah, bagian dari partisipasi BUMN. Intinya, Kementerian BUMN punya tugas untuk membuat BUMN berjalan lebih baik, salah satunya dengan rasionalisasi anak-anak usaha BUMN," pungkasnya.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Erick Thohir Pangkas 51 Anak dan Cucu Usaha Garuda, Pertamina dan Telkom

Onderdil Harley Davidson dan Brompton
Menteri BUMN Erick Thohir saat konferensi pers terkait penyelundupan motor Harlery Davidson dan sepeda Brompton menggunakan pesawat baru milik Garuda Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12/2019). (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memangkas anak dan cucu PT Garuda Indonesia, PT Pertamina dan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Terdapat 51 anak dan cucu usaha yang akan dipangkas dari 3 BUMN tersebut.

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan, efisiensi BUMN harus tetap dijalankan sesuai dengan KPI yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal tersebut harus dilaksanakan meskipun ekonomi tengah digempur Corona.

Adapun, Garuda akan memangkas 6 perusahaan, Pertamina akan memangkas 25 perusahaan dan Telkom sebanyak 20 perusahaan.

"Hari ini kami undang 3 Dirut, bahwa kami tetap pastikan efisiensi itu tetap berjalan. Bisnis proses yang baik harus diutamakan efektivitasnya terhadap perusahaan dan tetap berkelanjutan," kata Erick Thohir saat konferensi pers virtual, Jumat (3/4/2020).

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mendukung perampingan anak dan cucu usaha BUMN ini agar perusahaan bisa lebih fokus ke inti usaha.

"Hari ini kita melakukan rasionalisasi terhadap anak dan cucu perusahaan salah satunya Garuda Tauberes," ujar Irfan.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah juga menyatakan bahwa sebenarnya perusahaan telah memulai pemangkasan anak cucu sejak tahun lalu.

"Ada 49 anak dan cucu perusahaan terkonsolidasikan ke Telkom. Ada beberapa yang overlapping kurang efisien. Kita juga pertimbangkan ke depan Telkom seperti apa, apakah di-merger atau apa agar Telkom fokus ke core bisnis," kata Ririek.

Sementara Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan hal yang sama. Dari 25 perusahaan yang bisa dipangkas, Pertamina menargetkan akan melakukan likuidasi 7 perusahaan dan divestasi 1 perusahaan untuk tahun ini. Sedangkan sisanya akan dilakukan pada tahun depan. 

"Kami sedang melihat kembali efisiensi dan fokus kepada core, mana yang bisa merger dan akuisisi, mana saja yang secara strategis bisa dilakukan untuk memperkuat bisnis utamanya," ujar Nicke.

Lanjutkan Membaca ↓