Harga Minyak Anjlok, Batu Bara Jadi Bahan Bakar Fosil Termahal di Dunia

Oleh Athika Rahma pada 26 Mar 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 26 Mar 2020, 13:00 WIB
Ekspor Batu Bara Indonesia Menurun

Liputan6.com, Jakarta Batu bara, alternatif bahan bakar yang dulu dikenal sebagai bahan bakar paling murah, kini berbanding terbalik. Komoditas ini menjadi bahan bakar fosil termahal di dunia, menggeser minyak mentah.

Mengutip laman Bloomberg, Kamis (26/3/2020), harga minyak yang amblas sebulan terakhir membuat harga patokan harga minyak mentah dunia berada di bawah kontrak rata-rata.

Harga batu bara kontrak berjangka ICE Newscastle kini berada di angka USD 66,85 per metrik ton, Jumat (20/3/2020) lalu. Angka tersebut setara harga minyak seharga USD 27,36 per barrel. Bahkan, harga minyak mentah Brent berada di posisi USD 26,98 per barrel.

Konsumsi batu bara di Amerika Serikat dan Eropa sendiri masih rendah karena adanya alternatif gas alam yang murah dan dapat diperbarui.

Sementara di Asia, konsumsi batu bara kian melonjak, terutama bagi negara-negara berkembang. Meski dibutuhkan, batu bara berkontribusi karbondioksida 2 kali lebih banyak dan memberi polusi udara 30 persen lebih banyak daripada bensin.

Sementara, batu bara ICE Newscastle lebih banyak digunakan sebagai pembangkit listrik. Oleh karenanya meskipun jadi yang termahal, secara substansi penggunaan batu bara berbeda dari perdagangan minyak yang biasa dilakukan.

Adapun faktor yang membuat harga minyak dunia semakin turun ialah membanjirnya pasokan (oversupply). Kebijakan pembatalan penerbangan dan pembatasan perjalanan yang diambil beberapa negara membuat penggunaan minyak mentah turun 20 persen.

Namun di sisi lain, Arab Saudi dan Rusia malah membanjiri pasar dengan pasokan minyak tambahan. Alhasil, harga minyak turun hingga 60 persen hingga sekarang.

Berdasarkan pantaun Liputan6.com dari data Bloomberg, harga minyak Brent saat ini masih berada di kisaran USD 27,17 per barrel sementara minyak WTI berada di posisi USD 24,12 per barrel.

2 dari 2 halaman

Harga Minyak Dunia Naik Didukung Paket Stimulus AS

Ekspor Batu Bara Indonesia Menurun
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Harga minyak mentah AS naikĀ pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta). Hal ini didukung oleh kemajuan pada paket stimulus ekonomi AS yang tertunda, bahkan ketika data pemerintah menunjukkan pandemi virus corona mulai mengurangi permintaan bahan bakar AS minggu lalu.

Dikutip dariĀ Antara, permintaan akan produk minyak, terutama bahan bakar jet, turun secara dramatis ketika pemerintah secara global mengumumkan penutupan secara nasional untuk memperlambat penyebaran virus corona.

Permintaan bahan bakar diperkirakan akan turun tajam di seluruh dunia pada kuartal kedua dengan sebagian besar penerbangan terhenti dan perjalanan darat sangat dibatasi. Baru-baru ini, India, negara terpadat kedua di dunia dan konsumen minyak terbesar ketiga, memasuki penutupan selama 21 hari.

Produk bensin mingguan AS yang dipasok turun 859 ribu barel per hari (bph) menjadi 8,8 juta barel per hari pekan lalu. Penurunan satu minggu terbesar sejak September 2019, menurut Badani Informasi Energi AS (EIA). Permintaan bahan bakar secara keseluruhan turun hampir 2,1 juta barel per hari selama seminggu.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik USD 0,48 atau 2,0 persen, menjadi USD 24,49 AS per barel. Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik USD 0,24 atau 0,9 persen menjadi 27,39 dolar AS per barel.

Para senator AS dan pejabat pemerintah Trump telah mencapai kesepakatan tentang RUU stimulus USD 2 triliun yang diperkirakan akan disahkan Kongres pada Rabu (25/3/2020) membantu meningkatkan pasar.

Kepala eksekutif pedagang minyak terbesar dunia, Vitol Group, memperkirakan kehilangan permintaan 15 juta hingga 20 juta barel per hari (bph) selama beberapa minggu ke depan.

Lanjutkan Membaca ↓