Ada Virus Corona, Sri Mulyani Harap Krisis Ekonomi Tak Terulang Kembali

Oleh Liputan6.com pada 24 Mar 2020, 19:46 WIB
Diperbarui 24 Mar 2020, 19:46 WIB
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi 2

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengharapkan agar krisis kesehatan yang terjadi di Indonesia akibat Virus Corona atau Covid-19 tidak melebar ke sektor lain.

Meskipun, saat ini seluruh negara-negara di dunia juga tengah menghadapi krisis yang sama akibat penyebaran virus asal China itu.

"Sekarang seluruh dunia sedang menghadapi krisis di bidang kemanusiaan. Yang sedang diupayakan jangan sampai krisis kesehatan ini mempengaruhi sangat dalam pada krisis ekonomi, sosial dan keuangan," kata dia di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Sri Mulyani mengatakan semua negara tengah menjaga agar krisis corona ini tidak berdampak lebih luas hingga menimbulkan krisis ekonomi. Meskipun adanya virus ini sudah mengakibatkan terjadinya kontraksi ekonomi, tetapi tidak berarti krisis ekonomi sedang terjadi.

Bendahara Negara ini menjelaskan, kondisi serupa pernah terjadi di 2008-2009 lalu akibat krisis keuangan yang merembet ke sektor lain. Untuk itu, seluruh negara saat ini berusaha agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.

"Ini sedang diikhtiarkan, diupayakan seluruh negara G20 dan non G20, agar krisis ini bisa ter-contain atau dicegah pada level masalah kesehatan. Dan sedikit pada masalah ekonominya tapi tidak berkelanjutan," jelasnya.

Menurut dia, terpenting saat ini adalah bagaimana seluruh negara ikut merespon kondisi ini namun tidak saling tumpang tindih kepentingan. Oleh karenanya, para pimpinan negara anggota G20 akan melaksanakan pertemuan darurat untuk bersama-sama merespon kondisi terkini.

"Ini persis tahun 2009 pada saat Presiden (George) Bush mengundang emergency meeting di Washington. Persis situasinya, cuma dulu triggernya krisis keuangan spill over ke ekonomi dan masyarakat, sekarang triggernya sektor kesehartan dan keamanan masyarakat bisa masuk ke sektor ekonomi dan diharapkan tidak masuk ke krisis selanjutnya," pungkas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Morgan Stanley: Dampak Virus Corona Lebih Besar Dibanding Krisis Keuangan Global

Pertumbuhan ekonomi.
(Foto:@Pelindo III)

Riset Morgan Stanley (MS) menuliskan bahwa ekonomi dunia akan semakin terperosok akibat wabah virus Corona Covid-19. Lembaga keuangan internasional ini memperkirakan pertumbuhan global akan mendekati level terendah krisis keuangan global. bahkan khusus untuk Amerika Serikat (AS) pertumbuhan ekonominya akan berada di level terendah selama 74 tahun terakhir.

Mengasumsikan puncak kasus penyebaran virus Corona akan terjadi pada bulan April atau Mei, Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan akan mulai pulih dari mulai kuartal ketiga 2020 dengan respons kebijakan moneter dan fiskal yang secara agresif telah dijalankan.

Selama beberapa hari terakhir, situasi di Italia, beberapa area di Eropa yang meluas dan AS telah memburuk secara signifikan. Kerusakan ekonomi akan sangat parah dikarenakan sebagian besar pemerintah dan perusahaan sektor swasta di negara-negara ini memulai langkah-langkah social distancing yang lebih ketat untuk menahan penyebaran virus.

Kepala ekonom AS Morgan Stanley, Ellen Zentner kembali memotong estimasi pertumbuhan ekonomi AS di 2020 menjadi negatif 3 persen dari sebelumnya 0,6 persen. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan AS diperkirakan berkontraksi dan mencapai level terendah selama 74 tahun.

Pertumbuhan global diperkirakan turun menjadi 0,3 persen pada 2020, mendekati level terendah sejak krisis keuangan global, ketika pertumbuhan global berkontraksi sebesar  negatif 0,5 persen pada 2009.

Morgan Stanley melihat sebagian besar penurunan terjadi di paruh pertama 2020, dengan kontraksi pertumbuhan sebesar negatif 0,6 persen dan  negatif 2,1 persen pada masing-masing kuartal  I dan II.

 

3 dari 3 halaman

Pemulihan

Estimasi kasus dasar Morgan Stanley mengasumsikan virus memuncak pada bulan April atau Mei 2020 dan pertumbuhan global mulai pulih di kuartal III 2020. Namun, apabila puncak dari virus terjadi lebih lama dan disrupsi ekonomi berlanjut hingga kuartal ketiga 2020, maka Morgan Stanley memprediksikan pertumbuhan global dan AS akan berkontraksi masing-masing sebesar  negatif 2,1 persen dan  negatif 8,8 persen di 2020.

Apabila skenario ini terjadi, maka pertumbuhan global akan lebih rendah daripada ketika krisis keuangan global dan pertumbuhan AS akan turun ke level saat depresi besar AS (great depression) pada tahun 1930.

Namun, tidak seperti pada 1929-1933, saat ini sudah terlihat respons kebijakan yang agresif.

Dengan pengalaman krisis 2008 yang masih segar dalam ingatan, para pembuat kebijakan selama beberapa hari terakhir telah gencar melakukan intervensi, terutama di G4 dan China.

Lanjutkan Membaca ↓
Penampakan Mobil Baru Christiano Ronaldo Senilai Rp 145 Miliar