Erick Thohir Siapkan Rumah Sakit dan Hotel untuk Tangani Pasien Corona

Oleh Athika Rahma pada 17 Mar 2020, 20:47 WIB
Diperbarui 17 Mar 2020, 20:47 WIB
Petugas Medis Tangani Pasien Virus Corona di Ruang ICU RS Wuhan
Perbesar
Petugas medis dari Provinsi Jiangsu bekerja di sebuah bangsal ICU Rumah Sakit Pertama Kota Wuhan di Wuhan, Provinsi Hubei, 22 Februari 2020. Para tenaga medis dari seluruh China telah mengerahkan upaya terbaik mereka untuk mengobati para pasien COVID-19 di rumah sakit tersebut. (Xinhua/Xiao Yijiu)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah mempersiapkan Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ) dan Hotel Patra Comfort agar dapat digunakan untuk menangani pasien yang terpapar virus Corona.

Hal ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Selasa (17/3/2020). Arya menyatakan, rumah sakit dan hotel tersebut sedang dioptimalkan fasilitasnya agar dapat dijadikan tempat perawatan pasien secara maksimal.

"Jadi, RS Pertamina Jaya, itu ada ruangan isolasi bertekanan tinggi di 3 lantai sehingga sistem penyaluran udaranya tidak terlewati virus," kata Arya.

Kemudian, kapasitas ruangannya ada sekitar 65 tempat tidur yang terdiri dari 20 tempat tidur untuk perawatan setingkat ICU dan 45 tempat tidur non-ICU.

Dilengkapi dengan lab diagnositc yang dapat mendeteksi virus Corona, operasional RS Pertamina Jaya akan didukung 10 dokter spesialis, 8 dokter umum dan 3 perawat terlatih.

"Disampingnya ada hotel, nanti kita ada penambahan sekitar 90 tempat tidur lagi kita siapkan, totalnya nanti akan 160 ruangan," imbuh Arya.

Dengan demikian, 2 bangunan tersebut akan menjadi satu komplek tempat yang khusus untuk menangani pasien virus Corona. Diharapkan, persiapan ruangan ini akan rampung dalam 2 minggu lagi.

"Jadi akan ada ruangan khusus di sana sehingga ini akan diselesaikan dalam 2 minggu," kata Arya mengakhiri.

2 dari 3 halaman

Gara-Gara Corona, Okupansi Hotel Anjlok di Bawah 50 Persen

Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi kamar hotel. (dok. pexels.com/Pixabay)

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), mengungkapkan occupancy rate untuk sektor hotel pada 1-14 Maret 2020 secara nasional telah dibawah 50 persen. Hal ini menunjukan sektor hotel telah mengalami kesulitan cash flow dan kerugian akibat virus corona.

Untuk itu, PHRI menyebutkan saat ini menajemen hotel mulai membicarakan kemungkinan terburuk kepada karyawan untuk mengurangi biaya tenaga kerja yaitu dengan mengatur giliran kerja atau merumahkan sebagian karyawan, mengurangi jam kerja, menghentikan pekerja harian serta kemungkinan pembayaran THR yang tidak utuh.

Wakil Ketua Umum Organisasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengatakan bahwa sudah ada perusahaan yang mulai mengurangi karyawannya. Namun terkait jumlah persisnya, Yusran belum mengantongi datanya.

“Kami belum mendatanya secara langsung, tapi infonya sudah ada,” ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2020).

Selanjutnya, Yusran menyambung, umumnya yang melakukan pengurangan karyawan adalah dari sektor hotel. Karena yang banyak jumlah tenaga kerjanya adalah hotel dibandingkan rengan restoran.

Sebelumnya, Menurut data PHRI, terjadi penurunan occupancy rate yang tajam sejak dikeluarkannya Nota Dinas dari beberapa Kementerian dan Lembaga yang memberikan instruksi untuk tidak mengadakan rapat atau acara yang mengumpulkan orang banyak. Segmen pasar pemerintah bagi sektor hotel sangat dominan di seluruh wilayah Indonesia.  

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓