BEI Minta Emiten Gelar Public Expose Insidentil untuk Redam Kepanikan

Oleh Liputan6.com pada 13 Mar 2020, 14:40 WIB
Diperbarui 13 Mar 2020, 14:40 WIB
Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah

Liputan6.com, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menginisiasi penyelenggaraan Public Expose Insidentil untuk memberi ruang bagi emiten menyampaikan kinerja keuangannya kepada investor. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan diri para investor dan mencegah aksi panic selling (penjualan saham berlebihan).

"Kita sudah sampaikan seminggu yang lalu kita kirim surat ke mereka (para emiten). BEI mendorong mereka memaparkan kinerja perusahaannya, supaya saham mereka tidak semakin tergerus dan dapat meyakinkan kepercayaan investor," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (13/3/2020).

Ia kemudian mengklaim BEI berkomitmen mendukung penuh bagi perusahaan yang tertarik untuk menggelar acara Public Expose Insidentil. "Kita siap sediakan tempat di BEI atau jika mereka memilih di kantornya kita juga siap datang," imbuh Nyoman.

Gede juga menyebut bahwa kinerja sejumlah perusahaan yang melantai di BEI masih baik, bahkan di level Asia Tenggara. Untuk itu para investor di minta lebih rasional dengan tidak melakukan aksi panic selling, karena sejumlah perusahaan tercatat masih mempunyai nilai saham yang baik.

“Tercatat sebanyak 79 persen perusahaan kita berhasil membukukan net income. Malaysia hanya sebesar 68 persen perusahaan, dan Singapura hanya sebesar 64 persen perusahaan yang mencatatkan net income,” pungkas Nyoman.

 

2 dari 3 halaman

Buka Informasi Lengkap

Perdagangan Awal Pekan IHSG Ditutup di Zona Merah
Pekerja tengah melintas di layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/11/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada zona merah pada perdagangan saham awal pekan ini IHSG ditutup melemah 5,72 poin atau 0,09 persen ke posisi 6.122,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam kesempatan yang sama Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Hasan Fawzi menambahkan bahwa di era keterbukaan informasi publik, emiten dapat memanfaatkan Public Expose Insidentil sebagai momentum tepat untuk membuka informasi lengkap terkait kinerja perusahaannya.

Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah Emiten yang belum merilis laporan keuangan perusahaannya.

"Sejauh ini baru 59 emiten yang sudah menyampaikan laporan keuangan. Dari jumlah tersebut, tercatat pertumbuhan rata-rata pendapatan emiten mencapai 4 persen," sahutnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓