Ada Virus Corona, Risiko Resesi Global Semakin Meningkat

Oleh Athika Rahma pada 08 Mar 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 08 Mar 2020, 18:00 WIB
Imbas Corona, Pasangan di Italia Dilarang Berciuman
Perbesar
Suami istri bersiap selfie di kota Duomo, Milan, Italia, Kamis (27/2/2020). Kementerian Kesehatan Italia, hingga Rabu 4 Maret, mencatat ada 3.089 orang yang terinfeksi Virus Corona COVID-19. Rinciannya, 2.706 kasus positif, 107 orang meninggal dunia, dan 276 orang sembuh. (AP Photo/Luca Bruno)

Liputan6.com, Jakarta - Mewabahnya epidemi COVID-19 berdampak pada pertumbuhan ekonomi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Jika dalam jangka pendek, virus yang dikenal dengan Corona ini bisa melumpuhkan kegiatan sehari-hari, maka dalam jangka panjang, mungkin saja risiko resesi dunia akan semakin meningkat.

Baru-baru ini, Moody's Investor Service (Moody's) merilis Global Macro Outlook 2020-2021, dengan analisis yang sudah diperbarui per Maret 2020.

Publikasi yang diterima Liputan6.com, Minggu (08/03/2020) menyebutkan bahwa virus Corona akan melukai pertumbuhan ekonomi di banyak negara di semester pertama 2020. Hal itu meningkatkan risiko resesi dunia.

"Semakin lama wabah (Corona) mempengaruhi kegiatan ekonomi, guncangan permintaan akan mendominasi dan mengarah pada dinamika resesi," demikian tertulis di kolom Global Recession Risks Have Risen.

Sebelumnya, Moody's memprediksi pertumbuhan ekonomi negara-negara G-20 hanya bisa mencapai 2,1 persen saja, 0,3 poin lebih rendah dari prediksi sebelumnya. Untuk China sendiri, prediksi pertumbuhannya hanya 4,8 persen, turun 4 poin dari prediksi sebelumnya, 5,2 persen.

 

2 dari 3 halaman

2 Asumsi

Penumpang MRT Jakarta
Perbesar
Sejumlah penumpang menggunakan masker saat antre memasuki kereta Mass Rapid Transit (MRT) di Stasiun Bundaran HI Jakarta, Selasa (3/3/2020). Penumpang dengan gejala demam tinggi dilarang masuk dan menggunakan MRT sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona Covid 19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ada dua asumsi yang mendasari prediksi Moody's. Pertama, aktivitas ekonomi pada semester pertama 2020 akan terganggu pemulihan produksi dan permintaan konsumen di semester berikutnya. Kedua, suhu hangat di negara-negara bagian belahan bumi utara (Northern Hemisphere) di musim semi dan musim panas berpotensi mematikan virus, meskipun Moody's sendiri tetap akan memonitor hal ini.

Namun, skenario buruk yang lain dapat terjadi. Misalnya, jika infeksi dan penularan terjadi lebih cepat pasti akan mendorong sentimen jadi lebih rendah.

"Secara khusus, akan ada kemunduran berkelanjutan dalam konsumsi, ditambah penutupan bisnis yang semakin menjadi-jadi, tentu akan mengganggu pendapatan, mendorong PHK dan akhirnya, kondisi tersebut memberi 'makan' pada risiko resesi itu sendiri," demikian tertulis dalam kolom analisis

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓