Startup Ini Tawarkan Masker dengan Harga Terjangkau

Oleh Liputan6.com pada 06 Mar 2020, 12:15 WIB
Diperbarui 06 Mar 2020, 12:15 WIB
Polisi Gerebek Pabrik Masker Ilegal di Jakarta Utara
Perbesar
Polisi menggerebek pabrik masker ilegal di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (28/2/2020). (Liputan6.com/ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai upaya untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam mengantisipasi risiko virus Corona (COVID-19), Halodoc platform kesehatan terintegrasi menjalankan protokol resmi penanganan risiko virus Corona kepada para dokter yang tergabung di ekosistem Halodoc.

Selain itu, lewat aplikasi Halodoc, masyarakat juga dapat membeli masker melalui layanan pharmacy delivery, dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasaran saat ini.

Sebagai gambaran untuk masker dengan merek Nexcare Daily tersedia di harga Rp 6.500 per sachet (isi dua buah) dan Diapro (Skrineer) di harga Rp 162.500 per kotak (isi 50 buah).

"Pasca temuan 2 kasus positif Corona pada 2 Maret lalu, permintaan terhadap produk pencegahan virus Corona seperti masker dan suplemen daya tahan tubuh juga mengalami peningkatan yang signifikan. Kami terus mengoptimalkan ekosistem teknologi kami untuk memfasilitasi kebutuhan pengguna dalam mengantisipasi risiko virus Corona dari hulu ke hilir," kata VP of Marketing Halodoc, Felicia Kawilarang dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (3/6/2020).

Sebelumnya, pemerintah melalui Kemenkes RI telah menyediakan kontak hotline yang bisa dihubungi masyarakat selama 24 jam, menyusul temuan 2 kasus positif di Indonesia. Sementara itu, data World Health Organization (WHO) menyebutkan, total kasus yang telah dikonfirmasi COVID-19 global per 2 Maret 2020 adalah sebanyak 88.948 kasus.

Sebagai langkah preventif, Halodoc juga telah menyiapkan edukasi mengenai virus Corona yang dapat diakses masyarakat di platform Halodoc.

Masyarakat dapat mengenali gejala klinis umum dari yang biasanya ditandai dengan demam > 38 derajat celcius, nyeri tenggorokan, batuk, pilek, hidung tersumbat, dahak kental, sesak nafas, infeksi paru, diare, mual/ muntah, hingga nyeri otot.

Apabila ada kekhawatiran lebih lanjut, masyarakat juga bisa berkomunikasi dengan lebih dari 20 ribu dokter berlisensi dan berpengalaman yang ada di ekosistem Halodoc.

Seluruh dokter umum di ekosistem Halodoc sudah dibekali dengan kemampuan yang mumpuni dalam memberikan diagnosis awal maupun diagnosis banding.

"Sejak Corona mulai ramai dibahas pada awal tahun, jumlah penelusuran kata kunci virus corona di platform Halodoc mengalami peningkatan hingga enam kali lipat. Dalam situasi saat ini, kami bekerja secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam berkomunikasi dengan dokter secara cepat dan mudah, serta memastikan ketersediaan produk pencegahan Corona yang berkualitas tetap tersedia di platform Halodoc," tandas dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sidak KPPU Temukan Kenaikan Harga Masker Capai 1.000 Persen

Penimbun Masker Ditangkap di Semarang
Perbesar
Barang bukti masker dan hand sanitizer botol ditunjukkan saat rilis di Polda Jateng, Semarang, Selasa (4/3/2020). Menurut Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Iskandar F Sutisna, penangkapan tersangka berawal dari patroli siber saat masker mengalami kelangkaan di pasaran. (Liputan6.com/Gholib)

Temuan mengejutkan saat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah (Kanwil) I melakukan inspeksi mendadak (sidak) di salah satu gudang distributor masker di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Dalam sidak yang dilakukan KPPU di gudang distributor masker Jalan Mojopahit, Kecamatan Medan Baru, ditemukan adanya kenaikan harga masker yang signifikan, yaitu mencapai 1.000 persen.

Kenaikan harga masker tersebut terjadi pasca Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan dua Warga Negara Indonesia (WNI) berstatus ibu dan anak positif virus corona COVID-19.

"Kita sidak, cek monitoring ketersediaan pasokan dan harga masker di Sumut. Kita tahu, hari ini harga masker naik sampai 1.000 persen," kata Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak, Kamis (5/3/2020).

KPPU dalam dua bulan terakhir melakukan penelitian apakah ada pelanggaran atau tidak. Dalam sidak kali ini KPPU menemukan adanya lonjakan harga. Dalam pengecekan juga diketahui pasokan memang sangat berkurang dari pabrikan yang ada di Surabaya dan Bandung.

"Sementara ini, penelitian kita, pembuatan masker ada beberapa bahan baku yang harus impor, salah satunya dari China. Mungkin itu penyebabnya, sehingga pasokan berkurang sedangkan permintaannya sangat tinggi," sebutnya.

KPPU mengingatkan kepada distributor masker untuk tidak memaafkan harga jual masker terkait virus corona. Pihaknya memastikan saat ini harga masker di tingkat pabrikan ke distributor berada di angka Rp 100 ribu per kotak. Di tingkat distributor ke pengecer dijual di angka tertinggi Rp 150 ribu.

"Distributor jangan sampai bermain harga. Jangan sampai mengambil keuntungan berlebih. KPPU siap mengambil tindakan hukum jika ada pengusaha melakukan pelanggaran, dan diancam denda maksimal Rp 25 miliar, hingga pencabutan izin usaha," tegasnya Ramli.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya