Menteri Erick Soal Panic Buying: Kita Tak Bisa Melarang

Oleh Liputan6.com pada 04 Mar 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 04 Mar 2020, 14:00 WIB
Safari Media, Erick Thohir Sambangi Kantor Liputan 6
Perbesar
Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Erick Thohir berpose usai mengunjungi Kantor Liputan 6 di SCTV TOWER, Jakarta, Senin (10/12). Kunjungan Erick Thohir dalam rangka roadshow ke beberapa media. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyikapi panic buying yang terjadi usai pemerintah mengumumkan dua warga negara Indonesia positif terjangkit Virus Corona. Dia mengatakan, panik merupakan suatu hal yang lumrah terjadi sama hal nya ketika anggota keluarga sakit.

"Yang namanya panik, ya panik itu natural lah. Kalau kita punya anak sakit panas pasti langsung mau cepat-cepat di bawa. Tapi yang penting tadi, kita tidak bisa melarang orang panik," ujar Menteri Erick di Gudang Bulog Sunter, Jakarta, Rabu (4/3).

Menteri Erick Thohir mengatakan melihat kondisi saat ini pemerintah hanya bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. Selain itu pemerintah juga memastikan stok barang khusus pangan sangat tercukupi.

"Kapi kita memberikan edukasi kepada masyarakat kita siap, stocknya ada. Itu saja yang bisa kita lakukan, kalau dilarang orang panik, enggak mungkin. Cuma kita ingin memberikan secara transparan dengan fakta dan data, jadi bukan asumsi-asumsi bohong bahwa ini ada barangnya," paparnya.

Sebelumnya, pasca pengumuman dua warga Depok, Jawa Barat dinyatakan positif terpapar virus corona, masyarakat langsung menyerbu supermarket. Mereka berbondong-bondong membeli bahan makanan dalam jumlah besar. Fenomena panic buying ini membuat stok barang kebutuhan sehari-hari ludes di sejumlah ritel di Jakarta dan Surabaya.

 

2 dari 3 halaman

Penjualan Meningkat

20161003-Kantung-Plastik-Jakarta-AY3
Perbesar
Ketua Aprindo Roy Mandey menjelaskan kepada awak media di Jakarta, Senin (3/10). Dengan Permen tersebut, maka masyarakat lebih terikat. Meskipun ada penolakan, program kantong plastik berbayar akan tetap dijalankan pemerintah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, dengan adanya panic buying, diperkirakan terjadi peningkatan penjualan di ritel 10-15 persen. Di mana bahan pokok yang banyak dibeli masyarakat saat panic buying, yaitu beras dan minyak goreng kemasan.

Selain itu, masker juga ludes dibeli masyarakat. Dia memastikan harga masker yang dijual kemarin tetap normal. Hanya saja dia tidak mengetahui persis berapa banyak stok masker yang dijual ritel.

"Terjadi pengurangan tapi pabrik tetap memproduksi dan kita akan membeli dengan segala sourcing," kata Roy di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (3/3).

Dia menjelaskan, stok barang yang ludes dibeli warga kemarin sudah diisi kembali. Pihaknya sudah langsung menghubungi penyuplai dan pabrik-pabrik untuk mengisi kekosongan barang.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓