Kepala BKPM: Indonesia Mengarang Bebas Saat Tarik Investor Asing

Oleh Liputan6.com pada 20 Feb 2020, 13:35 WIB
Diperbarui 20 Feb 2020, 13:35 WIB
Bahlil Lahadalia
Perbesar
Bahlil Lahadalia (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membuat satu peta investasi di Indonesia. Sebab, selama ini pihaknya merasa sulit untuk mempromosikan beberapa daerah yang dianggap berpotensi untuk datangkan investasi.

"Selama ini kami promosikan investasi tapi tidak punya peta. peta identifikasi, inventarisasi sumber sumber daya alam apa yang akan kita akan promosikan," kata dia dalam acara Rakornas Investasi 2020 di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Bahlil mengatakan, jika ada satu peta di mana di dalamnya terdapat daerah-daerah yang berpotensi untuk dikembangkan dan diinvestasikan maka tidak akan sulit mengundang investor. Mengingat, lebih gampang dalam mempromosikan atau menawarkannya.

"Mohon arahan Pak Presiden, Menkeu (Sri Mulyani) bisa kah kita buat program agar kemudian kita melakukan marketing ke negara lain tidak seperti mengarang bebas," kata dia.

Menurut Mantan Ketua Hipmi itu, selama ini dalam menarik investasi kepada investor asing kebanyakan terlalu mengarang bebas. Dengan anggapan, Indonesia kekayaanya melimpah ditambah dengan penduduk terbesar yang mencapai 270 juta. 

"Tapi begitu ditanya tambangnya di mana, izinnya di mana, tidak punya kita. Jadi berbeda dengan kita dulu pengusaha membawa proposal lengkap. Ini kita tidak punya Pak Presiden. Jadi, mohon sebelum kita diketawain sama Korea, sama Malaysia kalo bisa mohon arahan bapak untuk bisa kita adakan, Pak," kata dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

BKPM Optimistis Realisasi Investasi Capai Rp 886 Triliun di 2020

Airlangga dan Bahlil Bahas Optimisme Pembangunan dan Peluang Nasional
Perbesar
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia (kiri) menyampaikan paparan dalam seminar nasional di Auditorium Adhiyana, Jakarta, Senin (3/2/2020). Seminar membahas peluang investasi di Tanah Air, termasuk dampak kasus virus corona bagi perekonomian Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan dirinya optimistis terkait outlook investasi di 2020 akan melebihi 2019.

"Saya pikir gini kalau untuk outlook tahun 2020, pertama kita berpijak pada tahun 2019, 2019 itu per realisasi investasi lampaui target dari Rp790,2 triliun menjadi Rp809,6 triliun beranjak dari apa yang terjadi di tahun 2019, realisasi yang ditargetkan tahun 2020 mencapai Rp 886 triliun," kata Bahlil kegiatan Indonesia Economic & Investment Outlook 2020, di Gedung Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), Senin (17/2/2020).

Kalau ditanya apa optimis apa tidak, saya ingin katakan dari data-data BKPM yang sudah punya potensi investasi yang akan direalisasikan bakal mencapai target," kata dia.

Kendati begitu, dengan melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2019, ia mengatakan sekali pun dengan angka 5,02 persen realisasinya alami perkembangan, itu bukanlah angka yang baik sekali, begitu pun tidak dikatakan jelek sekali, melainkan sedang saja. Karena memang pada tahun 2019, merupakan tahun politik, yang di dalamnya terjadi perseteruan antara dua kubu pemilihan presiden dan wakil presiden. 

"Di balik kedua kubu yang membuat masyarakat terbelah dua, tetapi posisi Indonesia dalam menjaga pertumbuhan ekonominya stabil, dia cuma turun 0,1 sekian persen. Dibandingkan pertumbuhan ekonomi G-20 Indonesia masih jauh lebih baik karena di bawah China," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga mengatakan langkah yang dilakukannya dalam menyelesaikan investasi yang berhenti di tengah jalan atau mangkrak, pihaknya berhasil menyelesaikan investasi mangkrak tersebut dalam kurun waktu 3,5 bulan.

"Ketika kami menyelesaikan investasi mangkrak Rp708 triliun sekarang hampir Rp200 triliun dalam kurun waktu 3,5 bulan kami selesaikan, apa yang terjadi? Menyelesaikan investasi tidak cukup dengan pendekatan regulasi, tapi juga butuh pendekatan pendekatan lapangan. Contoh konkret Lotte, Lotte itu investasi 4,2 bilion US dolar, itu mangkrak sekitar 4 tahun, enggak selesai, masalahnya tanah, selesai," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓