Pembangunan Industri Manufaktur Harus Dapat Dukungan Penuh

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 10 Feb 2020, 20:30 WIB
Diperbarui 10 Feb 2020, 20:30 WIB
Produksi Ambulans
Perbesar
Pekerja merakit ambulans di basis manufaktur milik perusahaan Brilliance Auto di Shenyang, China, 3 Februari 2020. Gelombang pertama produksi sebanyak 10 ambulans bertekanan negatif akan rampung pada 5 Februari dan langsung digunakan untuk memerangi epidemi coronavirus baru. (Xinhua/Pan Yulong)

Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan sektor manufaktur harus ‎mendapat diukungan. Pasalnya, sektor industri tersebut akan banyak menyerap tenaga kerja siap pakai, mampu mengundang investor, serta berkontribusi terhadap pendapatan nasional dan pertumbuhan perekonomian.

Anggota Komisi VI DPR RI Marwan Jafar‎ mengatakan, sejumlah program prioritas pembangunan industri nasional yang sedang dan akan ditempuh pemerintah akan terus dikawal dan didorong.

"Kami akan fokus menyoroti aspek seberapa besar penyerapan tenaga kerja yang dapat tercapai, termasuk dalam konteks meningkatkan keahlian dan daya saing sumber daya manusia di bidang perindustrian di era millenial saat ini dan ke depan," kata Marwan, di Jakarta, Senin (10/2/2020).

Menurutnya, aspek transformasi sektor industri manufaktur juga diharapkan mampu menopang pembangunan wilayah-wilayah industri baru di banyak lokasi di Sumatera, Kalimantan Selatan serta sejumlah lokasi lain di Madura, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan wilayah Papua Barat.

Selain itu, pengembangan sektor industri kecil dan menengah (IKM) juga perlu mendapat perhatian serta dilibatkan secara khusus seiring pembangunan beberapa wilayah industri baru sebagai penggerak perekonomian di daerah.

Dia mengingatkan, sesuai program prioritas Making Indonesia 4.0, pemerintah harus fokus mengakselerasi sektor manufaktur melakukan transformasi ke arah industri 4.0 atau digitalisasi. Upaya strategis ini dinilai bisa meningkatkan produktivitas secara lebih efisien sehingga mampu mendongkrak daya saing.

"Karena itu, Kementerian Perindustrian harus proaktif mengajak kalangan pelaku IKM melek atau mengakrabi dunia digital, bukan hanya buat industri skala besar saja," tandasnya.

2 dari 2 halaman

Industri Manufaktur Naik 4,01 Persen di 2019

Produksi Ambulans
Perbesar
Seorang pekerja terlihat merakit ambulans di basis manufaktur milik perusahaan Brilliance Auto di Shenyang, Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 3 Februari 2020. (Xinhua/Pan Yulong)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang 2019 naik sebesar 4,01 persen terhadap tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, naik 19,58 persen.

"Industri yang mengalami penurunan produksi terbesar adalah industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya, turun 18,49 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/2/2020). 

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2019 naik sebesar 3,62 persen (y-on-y) terhadap triwulan IV tahun 2018. Kenaikan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, naik 18,58 persen.

Sementara itu, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2019 naik sebesar 0,09 persen (q-to-q) terhadap triwulan III 2019. Industri yang mengalami kenaikan produksi tertinggi adalah industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, naik 13,07 persen.

"Pada industri yang mengalami penurunan terbesar adalah industri komputer, barang elektronik dan optik, turun 11,85 persen," jelas Suhariyanto. Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang triwulan IV tahun 2019 (y-on-y) pada tingkat provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara, naik 41,84 persen. Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah Provinsi Jambi, turun 35,58 persen.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait