PLN: Mobil Listrik Sangat Hemat, Cuma Rp 3.000 per 10 Km

Oleh Liputan6.com pada 17 Jan 2020, 14:10 WIB
Diperbarui 17 Jan 2020, 14:10 WIB
Konvoi Kendaraan Listrik Sambut Formula E 2020

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) memastikan bahwa biaya konsumsi energi mobil listrik lebih murah dibandingkan mobil mesin bensin. Hal ini terjadi akibat adanya efisiensi energi yang lebih maksimal dalam penggerak mobil listrik.

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memastikan, biaya konsumsi mobil listrik saat ini jauh lebih murah dibandingkan dengan mobil berbahan bakar bensin. Kondisi ini terjadi karena energi yang dihasilkan kendaran listrik lebih maksimal dalam menggerakan mesin.

Dia merincikan, untuk rata-rata mobil saat ini membutuhkan 1 liter bahan bakar minyak (BBM) untuk jarak tempuh 10 kilometer (km). Dimana harga bensin dan solar nonsubsidi sebesar Rp 9.500 per liter. Dengan demikian, untuk jarak tempuh 10 km, mobil menggunakan bensin membutuhkan biaya sebesar Rp 9.500.

Sementara untuk jarak tempuh yang sama, mobil listrik hanya memperlukan daya listrik sebesar 2 kilo watt hour (kWh). Di mana tarif PLN sebesar Rp 1.467 per kWh, maka mobil listrik hanya membutuhkan biaya listrik sebesar Rp 2.934 per 10 km atau hanya sekitar Rp 3.000 per 10 km.

"Satu kWh listrik, kalau rumah tangga Rp 1.467. Kali dua kurang lebih Rp 3.000. Jadi kalau pakai mobil bensin 10 km biayanya Rp 9.500, kalau pakai listrik Rp 3.000," ujar Darmawan di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Dia menjelaskan, hasil pembakaran BBM untuk menggerakan mesin mobil cenderung tidak maksimal. Mengingat, dari 1 liter BBM hanya 80 persen diantaranya yang dapat diubah menjadi bahan bakar penggerak mobil.

Kondisi ini berbeda dengan mobil listrik, yang menggerakan mesin dengan jumlah pasokan sumber tenaga yang lebih rendah. "Efisiensi lebih dari 60 persen," ucapnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Ada Mobil Listrik, Bagaimana Nasib Program Konversi BBM ke BBG?

Konvoi Kendaraan Listrik Sambut Formula E 2020
Mobil BMW i8 Roadster, i8 Coupe dan BMW i3s mengawal konvoi mobil listrik jelang jadwal pelaksanaan balap mobil listrik atau Formula E 2020 di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Konvoi kendaraan listrik berlangsung dari GBK menuju Monas. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Sebelumnya, pemerintah sedang mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi impor minyak dan pencemaran udara. Namun di sisi lain, pemerintah juga telah menggulirkan penggantian konsumsi (konversi) Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) pada sektor transportasi.

Lalu bagaimana nasib program konversi BBM ke BBG setelah disalip kendaraan listrik?

‎Sekretaris Jenderal Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengatakan, pemerintah sedang fokus mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam dalam negeri untuk menekan impor. Salah satunya dengan menggalakan penyerapan gas bumi yang produksinya masih banyak, dengan menjalankan program konversi BBM ke BBG pada kendaraan.

"Pemerintah prioritaskan penggunaan dalam negeri, ini salah satu subtitusi supaya Current Account Deficit kecil," kata Ego, di Jakarta, Sabtu (21/12/2019).

‎Dengan tujuan tersebut, program konversi BBM ke BBG tetap berjalan meski pemerintah telah menggagas program kendaraan listrik. Menurut Ego ‎konversi BBM ke BBG akan sejalan dengan peralihan kendaraan yang menggunakan BBM ke kendaraan listrik.

‎"Electric Vehicle kita terus akan beralih, kalau gas ini sudah tersedia lama apa lagi kalau betul-betul realisasikan jaringan yang saya bilang dari Sumatera ke Jawa, dulu terbatas sekarang disetiap jalan tol kapan pun ada," paparnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓