Susi Pudjiastuti Ungkap Penyebab Garam Petani Tak Terserap

Oleh Liputan6.com pada 15 Jan 2020, 14:50 WIB
Diperbarui 15 Jan 2020, 14:50 WIB
Menteri Susi Pudjiastuti

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengakui bahwa impor garam pada 2019 naik hampir sebesar 60 persen. Hal itu ia sampaikan dalam akun Twitternya @susipudjiastuti.

Kenaikan signifikan tersebut membuat para petani tidak bisa menjual garamnya, meskipun harga jual dibandrol setengah harga.

"Mengingatkan kepada kita akan garam para petani di musim ini yang tidak terjual karena jumlah Impor yang berlebihan," kata Susi dikutip dari akun Twitternya, Rabu (15/1).

 

Susi menjelaskan, sejak 2015-2017 impor garam di bawah kendalinya dibatasi sehingga harga garam petani bisa tembus di atas Rp1.500 - 2.000 lebih per Kilogram (Kg). Dengan kondisi itu maka semua produksi petani bisa terserap oleh pasar.

"Mulai 2018 Impor naik tinggi sekali. Neraca produksi garam diabaikan. Sehingga harga petani jatuh dan masih belum bisa jual produksinya," tulisnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 4 halaman

Realisasi Penyerapan Garam Petani

Ironis Harga Garam Cirebon Anjlok Rp 100 per Kg
Petambak Garam Cirebon mengeluh harga jual yang anjlok ditengah melimpahnya hasil produksi. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Fridy Juwono menargetkan penyerapan garam lokal pada tahun ini 1,2 juta ton. Adapun realisasi garam lokal hingga Juli 2019 sendiri telah mencapai 1 juta ton lebih.

"Kami berkomitmen menyerap 1.128.000 ton, serapan ini berlaku dari Agustus 2018 hingga Juli 2019. Hingga minggu pertama Juli jumlah serapan garam lokal sudah 1.009.000 ton,” ujarnya di Gedung Kemenko Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Fridy mengaku yakin dapat mencapai target serapan tersebut hingga akhir bulan ini. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi syarat rekomendasi pengajuan impor garam industri pada tahun ini.

Untuk selanjutnya, target penyerapan garam lokal akan sama dengan periode tahun lalu. Namun, target tersebut masih dalam tahap pembicaraan lebih matang.

"Kita masih belum hitung angkanya, ini masih dibicarakan. Dalam dua minggu diharapkan komitmen industri sudah keluar. Tapi jumlahnya tidak boleh kurang dari sebelumnya, minimal segitu besarnya," ucapnya.

3 dari 4 halaman

Janji Industri

Ilustrasi Garam
Ilustrasi Garam (iStockphoto)​

Meski belum ada komitmen tertulis, dia menegaskan para industri pengguna telah berjanji untuk menyerap garam setidaknya dengan volume yang sama seperti periode sebelumnya, yakni sekitar 1,2 juta ton. Realisasi penyerapan ini bisa dimulai pada waktu yang sama sekitar akhir Juli sampai Agustus.

Sementara itu, Direktur Operasional PT Garam (Persero), Hartono menambahkan pihalnya juga berkomitmen menyerap garam lokal sebanyak 75 ribu ton pada tahun ini. Langkah ini agar memberikan kepastian harga pada level petambak dan meningkatkan harga garam lokal di tengah mengalami penurunan.

“Kami akan membeli garam rakyat kualitas I (KW I) sehharga Rp 1.050 per kilogram (kg). Kami memang hanya menyerap garam dengan kualitas I saja," ungkapnya

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓