Masalah Natuna Tak Ganggu Proyek Infrastruktur China di Indonesia

Oleh Liputan6.com pada 08 Jan 2020, 19:00 WIB
Diperbarui 08 Jan 2020, 19:00 WIB
PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) pemasangan girder pertama proyek kereta cepat Jakarta-Bandung pada Senin (30/9/2019).
Liputan6.com, Jakarta Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memastikan, hubungan Indonesia dengan China tak akan putus. Ini meski sempat terjadi ketegangan antara dua negara, di mana nelayan China memasuki perairan Natuna.
 
Ketegangan yang terjadi juga tidak akan berpengaruh pada proyek infrastruktur di sektor perhubungan yang dikerjakan China. 
 
"Enggak ada (pengaruh), jalan aja dan lancar," kata dia usai bertemu Menko Polhukam Mahfud MD di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/1/2020).
 
Menurut dia, persoalan Natuna dengan proyek dan investasi yang sedang digarap harus bisa dibedakan. Sehingga, hal ini tak bisa diganggu meskipun mereka memasuki wilayah tersebut. 
 
"Saya pikir kita mesti pisahkan, ya, antara Natuna dengan kegiatan-kegiatan investasi," katanya.
 
Lebih lanjut ia menyampaikan, salah satu contoh yang digarap China adalah kereta api cepat Jakarta-Bandung, yang akan rampung pada bulan ini.
 
Selain proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, China juga menangani berbagai proyek infrastruktur perhubungan di Indonesia.
 
"Ada beberapa pelabuhan yang sedang dibicarakan (dengan China)," pungkasnya.
 
Reporter: Ronald Chaniago
 
Sumber: Merdeka.com
2 dari 2 halaman

Menko Luhut Ungkap Alasan Bangun Sentra Perikanan Baru di Natuna

Masyarakat Pulau Natuna mendeklarasikan diri bersatu mendukung pengusiran kapal-kapal asing.
Masyarakat Pulau Natuna mendeklarasikan diri bersatu mendukung pengusiran kapal-kapal asing.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengungkapan salah satu alasan pemerintah akan membangun kembali Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di perairan Utara Natuna.

Salah satunya yakni agar berdekatan dengan daerah perbatasan perairan antara Indonesia-China.

"Kita mau letaknya di Utara biar lebih dekat dengan perbatasan," katanya saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Rabu (8/1).

Luhut menyebut rencana pembangunan SKPT di wilayah Utara Natuna merupakan sebagai desain ulang agar kapal-kapal ikan Indonesia lebih banyak masuk ke daerah sana. Nantinya, kapal-kapal yang diusulkan berada di SKPT baru di atas 30 GT.

Di samping itu, Mantan Menko Polhukam ini juga memastikan meski berada di daerah perbatasan, SKPT di Utara Natuna akan tetap aman. Sebab, kapal-kapal China sendiri diklaim tidak bisa masik ke teritorial wilayah perbatasan Indonesia.

"Patrolinya juga kita buat nanti, Mereka (juga) kan gak masuk ke teritorial kita," tandas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓