Pertamina Minta Insentif untuk Tingkatkan Produksi Migas Blok Terminasi

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 03 Jan 2020, 19:00 WIB
Diperbarui 03 Jan 2020, 19:16 WIB
20160414- Kilang Pengolahan Minyak Terbesar ke-2 di Indonesia-Kalimantan- Fery Pradolo

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) membutuhkan insentif dari pemerintah untuk menerapkan program Optimasi Pengembangan Lapangan-Lapangan (OPLL) pada tiga blok minyak dan gas bumi (migas)‎ terminasi.

Adapun tiga Blok Migas tersebut adalah Sanga-Sanga dikelola oleh Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS), kemudian Mahakam yang dikelola Pertamina Hulu Mahakam (PHM) dan East Kalimantan - Attaka yang dikelola oleh Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT).

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H. Samsu mengatakan, ‎OPLL merupakan upaya Pertamina meningkatkan produksi sumur migas. Salah satu sumur yang akan dioptimalkan produksinya terdapat di Blok Sanga-Sanga.

"Nah itu adalah bagaimana caranya supaya aset seperti Sanga-Sanga itu bisa dikembangkan meski dia usianya sudah cukup lanjut," kata Dharmawan, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (3/1/2019).

Untuk menerapkan optimalisasi pengembangan lapangan migas terminasi Pertamina membutuhkan insentif dari pemerintah agar keekonomian kegiatan tersebut menguntungkan. Adapun insentif yang dibutuhkan adalah penambahan bagi hasil migas, kemudahan perizinan dan penurunan harga sewa aset negara agar biaya yang dikeluarkan lebih murah.

"Sudah diajukan (insentifnya). Kalau enggak salah dua minggu yang lalu," ujar Dharmawan.

Dia menambahkan, Pertamina pun telah mengeluarkan insentif dengan menurunkan batas keekonomian proyeknya, namun insentif tersebut tidak cukup‎.

‎"Insentif ada dua sisi, Petamina sendiri misalnya menurunkan batasan keekonomian. Tapi dari pemerintah juga harus diberikan insentif," tandasnya.

2 dari 3 halaman

SKK Migas Yakin Produksi Minyak Tembus 1 Juta Barel di 2030

lustrasi tambang migas
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Sebelumnya, Konsumsi minyak dan gas (migas) dalam negeri terus meningkat sepanjang tahun. Namun sayangnya, pengonsumsian migas tak dibarengi dengan peningkatan angka produksi.

Alhasil, Indonesia harus mengimpor minyak demi memenuhi kebutuhan migas yang mencapai 1,4 juta barel per hari. Hingga saat ini bahkan pemerintah masih harus mengimpor 600 ribu barel per hari, untuk menambah hasil produksi migas yang mencapai 800 barel per hari.

Untuk mengatasi hal itu, untungnya Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) punya solusi yang dapat diandalkan.

Maka dari itu, SKK Migas menargetkan satu juga barel pada 2030, dengan menerapkan lima aspek transformasi, yaitu Clear Vision, Smart Organization, One Door Service Policy, Commercialization, dan Digitalization.

Bukan hanya itu saja, SKK Migas juga merancang empat strategi utama untuk meningkatkan produksi sekaligus memenuhi migas domestik. Pertama mempertahankan tingkat produksi existing.

Kedua, akseslerasi transformasi sumber daya dan menjadi cadangan migas. Ketiga mempercepat pelaksanaan enchaced oil recovery (EOR). Keempat, mendorong kegiatan eksplorasi yang masif.

Dengan lima aspek transformasi dan empat strategi itu menjadi bukti bahwa Indonesia masih memiliki potensi sumber daya 80 miliar barel minyak dan 363 triliun kaki kubik gas.

Dengan solusi itu, jadi mulai sekarang, yuk dukung program SKK Migas menuju satu juta barel di 2030.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓