Kisah CEO yang Tak Pernah Terima Gaji Selama 9 Tahun

Oleh Athika Rahma pada 27 Des 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 27 Des 2019, 21:00 WIB
Founder dan CEO Tatcha, Vicky Tsai. Sumber: CNBC
Perbesar
Founder dan CEO Tatcha, Vicky Tsai. Foto: Tatcha

Liputan6.com, Jakarta - Umumnya, orang-orang berpikiran, para CEO dan pemimpin perusahaan mendapatkan gaji yang besar. Mereka akan menggunakannya untuk menjalani kehidupan yang lebih mewah dan lebih menyenangkan.

Namun, hal ini tidak berlaku untuk CEO perusahaan produk skin care, Tatcha. CEO Tatcha, Vicky Tsai memutuskan untuk tidak menerima gaji dari perusahaan yang dia bangun selama 9 tahun.

Mengutip laman CNBC, Jumat (27/12/2019), Tatcha, yang didirikan pada 2009, tumbuh menjadi bisnis kosmetik dan masuk ke dalam daftar Inc 5000. Brand ini menjadi salah satu brand kecantikan favorit Kim Kardashian dan Meghan Markle, menghasilkan penjualan senilai USD 70 juta pada 2018, menurut keterangan Bloomberg.

Pada 2019, Unilever memutuskan untuk mengakuisisi perusahaan ini. Tsai juga menyatakan, hal tersebut bagus untuk perusahaannya, di samping dirinya yang tidak menerima gaji dari Tatcha selama 9 tahun.

“Saya memilih untuk tidak menerima gaji dan menginvestasikannya kembali untuk perusahaan. Meskipun saya ingin (menerima gaji), namun ini adalah langkah terbaik untuk mengokohkan fundamental perusahaan,” ujar Tsai.

 

2 dari 2 halaman

Terinspirasi Geisha Jepang

Kado Akhir Tahun
Perbesar
Skincare Favorit Meghan Markle (https://www.tatcha.com/)

Tatcha sendiri didirikan karena terinspirasi dari produk kecantikan para geisha di Jepang. Tsai, yang pada waktu itu menderita dermatitis akut, memutuskan untuk meracik ramuan kecantikan yang sederhana dan bebas dari bahan kimia untuk hasil yang lebih sehat.

Tsai menjadi salah satu perempuan menginspirasi yang berhasil membangun brand kecantikan dengan cepat. Meski demikian, menjadi CEO perusahaan membuat waktunya bersama anak-anak tidak banyak. Ketika ada waktu, dirinya memilih untuk mengajarkan investasi kepada sang anak.

“Saya mencoba mengajarkan investasi pada putri saja, lalu dia membangun perpustakaan hasil jerih payahnya sendiri di Kamboja. Itu hal yang baik sekaligus filantropis,” ujarnya.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by