Mimpi Desainer di Balik Konsep Ibu Kota Baru

Oleh Athika Rahma pada 23 Des 2019, 17:30 WIB
Diperbarui 23 Des 2019, 17:30 WIB
Juara 1 Desain ibu kota baru. Dok Kementerian PUPR
Perbesar
Juara 1 Desain ibu kota baru. Dok Kementerian PUPR

Liputan6.com, Jakarta - Sayembara ibu kota baru telah dimenangkan oleh Nagara Rimba Nusa. Tim yang diinisiasi oleh Sofian Sibarani, arsitek dari Urban+ ini mencoba menampilkan konsep ibu kota yang ramah lingkungan namun tetap modern dan berbasis smart city.

Sofian menjelaskan, kompetisi ini menjadi wadah segala ahli untuk menyatukan pikiran membentuk konsep ibu kota baru yang bisa dibanggakan.

"Ada ahli lanskap, ahli lingkungan, dan lain-lainnya. Ini kompleks, karena kita berpikir bagaimana bisa mewujudkan keseimbangan pembangunan, bagaimana bisa manusia bersanding dengan alam, karena di sejarah kita sebagian besar selalu tidak berhasil," ujar Sofian di Gedung Kementerian PUPR, Senin (23/12/2019).

Sofian melanjutkan, timnya sengaja membuat kompleks bangunan yang saling berdekatan agar penduduknya bisa dengan mudah melakukan mobilisasi.

Ibu kota baru rancangan tim Sofian ini mengadaptasi prinsip bio mimikri. Artinya, pembangunan dilakukan menyesuaikan dengan karakteristik hutan, tidak menghalangi aliran air dan angin.

"Kemudian, kami memilih lokasi dengan dengan air karena menurut kami, Indonesia negara maritim dan harus memperlihatkan kekuatan maritimnya. Ini adalah kebanggaan Indonesia juga," ungkap Sofian.

 

2 dari 3 halaman

Soal Antisipasi Banjir

Desain Ibu Kota baru. Liputan6.com/Athika Rahma
Perbesar
Desain Ibu Kota baru. Liputan6.com/Athika Rahma

Urusan banjir, Sofian mengatakan timnya telah mendesain di lahan bekas perkebunan yang konturnya di atas 10 meter.

"Bekas perkebunan tidak mungkin kena banjir karena logikanya, masyarakat di sana berkebun agar bisa berbuah. Tidak mungkin mereka memilih lahan yang rawan banjir. Di samping itu, masyarakat juga telah membangun pertahanan banjir," ujar Sofian.

Sementara, area pembangunan akan berkisar 2000 hingga 3000 hektar. Sisanya akan dibiarkan menjadi lahan hijau tempat bekantan dan hewan endemik lain hidup.

"Nanti kita akan bangun jalur yang tidak menyentuh habitat bekantan," imbuhnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓