Kadin: Banyak Warga Indonesia Belum Cinta Produk Dalam Negeri

Oleh Tira Santia pada 19 Des 2019, 13:28 WIB
Diperbarui 19 Des 2019, 13:28 WIB
Ilham Akbar Habibie pada acara Indonesia Education Forum di Jakarta, Jumat (18/10/2019)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia bermimpi menjadi negara maju. Untuk menuju ke sana, banyak hal yang harus dilakukan, khususnya mengenai peningkatan inovasi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Telematika, Penyiaran dan Ristek, Ilham Habibie, mengatakan di era digital ekonomi inovasi di Indonesia semakin destruktif.

"Saya kira kita sepakat bahwa jika ekonomi kita ingin meraih level high income country harus menguasai inovasi, baik secara budaya maupun proses. Kita akan susah mencapai level tersebut, jika tidak mengembangkan inovasi," kata Ilham acara Business Innovation Gathering (BIG) 2019, di LIPI Grand Ballroom, Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Menurutnya masyarakat Indonesia masih memiliki paradigma takut dalam mendukung produk dalam negeri. Padahal, Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan kaya akan pengusaha-pengusaha yang membuat suatu produk dalam negeri.

Ia pun mencontohkan negara Korea selatan, saat tahun 50-an kondisi ekonomi Korea Selatan sama dengan Indonesia. Namun sekarang terlihat jauh berbeda. Pemerintahan di sana, tidak sungkan dalam mengeluarkan dana untuk melakukan penelitian dalam mengembangkan inovasi.

Selain mudahnya menggelontorkan dana untuk penelitian inovasi, Korea Selatan juga didukung oleh masyarakatnya yang mencintai produk dalam negeri.

"Mereka bisa mencapai posisinya sekarang, yaitu mereka sadar bahwa riset dan inovasi dapat mendorong industrinya berkembang, selain itu mereka didukung oleh bangsanya dengan menggunakan produknya sendiri," jelas Ilham.

 

2 dari 4 halaman

4 Konsep Inovasi

PWI Beri Anugrah Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia untuk Habibie
Putra almarhum Presiden ke-3 RI BJ Habibie Ilham Akbar Habibie memberikan keterangan seusai menerima penyerahan anugerah Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia kepada almarhum BJ Habibie, di Jakarta (16/9/2019). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk menghindari ekonomi inovasi yang destruktif, ia memaparkan empat komponen inovasi ekonomi ke depan. Pertama, berinvestasi pada human kapital. Menurutnya kini pemerintah sudah mengedepankan untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM).

Kedua, harus berinvestasi pada Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dan ketiga, membina kewirausahaan dan mendukung inovasi. Menurutnya, kewirausahaan dan inovasi tidak bisa dipisahkan, perlu keseimbangan antara keduanya. Dan yang keempat, harus memperhatikan kemiskinan.

 

3 dari 4 halaman

Melek Teknologi

PWI Beri Anugrah Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia untuk Habibie
Putra almarhum Presiden ke-3 RI BJ Habibie Ilham Akbar Habibie (tengah) saat menerima anugerah Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia untuk almarhum BJ Habibie dari Ketua DK-PWI Pusat Ilham Bintang di Jakarta, Senin (16/9/2019). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Untuk ke depannya ia berharap pelaku industri dan pengguna teknologi digital, harus memahami dan menghadapi era industri 4.0.

"Mengerti tidak harus jd pakar, tapi apa artinya literasi teknologi kita harus mengerti programming, dan konsep-konsep teknologi lainnya, setidaknya kita harus tau konsep dasar teknologi," jelasnya.

Karena menurutnya, ekonomi dimasa mendatang harus mengandalkan pada inovasi untuk menciptakan daya saing tinggi. Mengerti dan menguasai teknologi bisa menjadikan atau menciptakan konsumen yang pintar.

Ia pun mengatakan, agar para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti reseller juga paham teknologi. Bukan hanya membeli barang dengan murah, lalu dijual kepada konsumen dengan harga mahal.

Tapi yang lebih ditekankan adalah bagaimana reseller tersebut paham cara menggunakan teknologi di era digital dalam menerapkan kegiatan ekonominya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓