Jokowi: Sudah Ketemu Siapa yang Senang Impor Migas

Oleh Lizsa Egeham pada 16 Des 2019, 14:51 WIB
Diperbarui 18 Des 2019, 13:13 WIB
Reaksi Jokowi Saat Dengar Penyidik KPK Disiram Air Keras-Jakarta- Angga Yuniar-20170411

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengaku sudah mengetahui siapa saja pihak yang mendapatkan keuntungan dari hasil impor minyak dan gas. Jokowi pun mengingatkan agar pihak tersebut untuk berhati-hati.

Hal ini disampaikan Jokowi saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrembangnas) Rencana Pembanungan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Dalam acara ini, para menteri kabinet Indonesia Maju dan kepala daerah.

"Yang seneng impor ini, bukan saya cari. Sudah ketemu siapa yang senang impor, sudah ngerti saya. Hanya perlu saya ingatkan, bolak-balik, hati-hati. Kamu hati-hati. Saya ikuti kamu," kata Jokowi di Istana Negara Jakarta, Senin (16/10/2019).

Jokowi mengatakan bahwa Indonesia memiliki batubara yang melimpah yang sebenarnya bisa disubsitusi untuk membuat gas, malah justru diimpor. Menurut dia, ada pihak yang sengaja menghalang-halangi pembuatan gas dari batubara.

"Jangan menghalangi orang ingin membikin batu bara menjadi gas. Gara-gara kamu senang impor gas," tegasnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa pihak yang mendapat keuntungan dari impor migas ini sempat khawatir apabila Indonesia bisa memproduksi gas sendiri. Sebab, dirinya tak bisa lagi meraup keuntungan besar.

"Kalau ini bisa dibikin, ya sudah, enggak ada impor gas lagi. 'Ya saya kerja apa Pak?' Ya itu urusanmu, kamu sudah lama menikmati ini," ucap Jokowi.

Begitu juga dengan impor minyak. Padahal, kata Jokowi, sumber minyak Indonesia masih banyak namun produksinya tak digenjot.

"Impor minyak sama. Lifting produksi minyak kita, sumber-sumber kita masih banyak kok. Kenapa nggak digenjot produksinya? Karena masih ada yang senang impor minyak. Ndak, saya pelajari detil ini, ndak, ini ndak, ndak bener kita ini," jelas Jokowi.

 

2 dari 3 halaman

Jokowi Siapkan Pengacara Terbaik Lawan Gugatan Uni Eropa

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso meninjau gudang beras Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/1/2019).
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso meninjau gudang beras Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/1/2019).

Presiden Jokowi menyatakan, siap menghadapi gugatan Uni Eropa soal larangan ekspor biji nikel. Jokowi meminta, jajarannya menyiapkan pengacara terbaik agar dapat memenangkan gugatan tersebut.

"Enggak perlu ragu. Pak, ini digugat Eropa, ya hadapi. Siapkan lawyer terbaik sehingga bisa menangkan gugatan itu. Jangan digugat kita keok karena tak serius hadirkan lawyer yang terbaik yang kita punyai," kata Jokowi di Pabrik Isuzu Plant Kawasan Industri Suryacipta Karawang Jawa Barat, Kamis (12/11/2019).

Menurut dia, pemerintah sudah mulai hilirisasi dan industrialisasi bahan-bahan mentah sumber daya alam yang dimiliki. Untuk itu, pemerintah memutusakan untuk menghentikan ekspor biji nikel per 2020.

Namun, Uni Eropa justru mengguat larangan ekspor tersebut ke World Trade Organization (WTO). Jokowi pun menegaskan pemerintah tak akan gentar menghadapi gugatan Uni Eropa.

"Kalau sudah digugat nggak apa-apa. Jangan digugat terus grogi, enggak. Kita hadapi, karena memang kita ingin bahan mentah ini ada added valuenya," jelasnya. 

Menurut Jokowi, industrialisasi dan hilirisasi akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Untuk kepentingan nasional, Jokowi menyatakan akan menghadapi apapun yang diprotes oleh negara lain.

"Biasa dalam hidup dan bernegara pun sama. Digugat ya hadapi. Terpenting jangan berbelok. Baru digugat saja mundur. Apaan, kalau saya enggak. Digugat tambah semangat," tuturnya.

"Tapi ya jangan kalah. Semangat tinggi digugat kalah," sambung Jokowi. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓