Jateng Jadi Kunci Pengembangan Sektor Perikanan di Jawa

Oleh Tira Santia pada 08 Des 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 08 Des 2019, 11:00 WIB
Menteri Edhy berdiskusi dengan pelaku usaha budidaya ikan, pengolah, dan pemasar hasil perikanan Jawa Tengah di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Ngrajek, Magelang. (Dok KKP)
Perbesar
Menteri Edhy berdiskusi dengan pelaku usaha budidaya ikan, pengolah, dan pemasar hasil perikanan Jawa Tengah di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Ngrajek, Magelang. (Dok KKP)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan bahwa Jawa Tengah (Jateng) merupakan provinsi kunci yang tak boleh diabaikan untuk pengembangan sektor perikanan. Oleh karena itu, Jateng akan menjadi salah satu fokus pembangunan industri kelautan dan perikanan ke depannya.

“Saya sudah berbicara dengan Pak Gubernur Jateng. Pada prinsipnya beliau sudah searah, tinggal bagaimana kita jalankan teknisnya karena implementasi adalah kunci. Hari ini saya datang ke salah satu pembenihan ikan di Jateng. Kita siap untuk membangun ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (8/12/2019).

Ia menambahkan, dirinya juga sudah berbincang dengan para Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, termasuk Jateng, di Rakornas Kementerian Kelautan dan Perikanan 2019 yang dilangsungkan pada 4-5 Desember lalu. Tiap daerah telah diminta untuk menyampaikan program-program yang ingin diprioritaskan di wilayahnya ke DPR.

Menteri Edhy mengatakan bahwa anggaran tak menjadi masalah utama melainkan bagaimana menciptakan iklim industri perikanan yang kondusif ke depannya.

“Iklim yang kondusif jadi kunci. Jangan belum mulai apa-apa, pelaku usaha sudah suruh bayar IMB dan sebagainya. Kami baru selesai Rakornas dengan seluruh stakeholders. Beri kami waktu untuk mengevaluasi dan merumuskan Permen-Permen yang ada. Tidak akan lama tapi saya tidak mau gegabah,” ucapnya.

 

2 dari 3 halaman

Keluhan

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menerima audiensi perwakilan Shrimp Club Indonesia (SCI), Petambak Muda Indonesia (PMI), dan Asosiasiasi Pengusaha Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Indonesia (AP5I). (Dok KKP)
Perbesar
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menerima audiensi perwakilan Shrimp Club Indonesia (SCI), Petambak Muda Indonesia (PMI), dan Asosiasiasi Pengusaha Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan Indonesia (AP5I). (Dok KKP)

Pengolah hasil perikanan dari Purwarejo Agung Prasetyo mengatakab, selama ini para pengolah terkendala oleh beratnya persaingan dengan produk impor yang memiliki harga jual yang cenderung lebih rendah karena diproduksi secara massal.

Menurutnya, ongkos produksi sudah sangat tinggi, mulai dari bahan baku sampai sarana produksi yang lain sehingga ketika dilempar ke pasar pun harganya sudah tinggi. Sementara itu, pengolah harus bersaing dengan produk-produk impor yang kemasannya sudah cantik dan harganya murah.

"Sebenarnya dari kualitas pengolahan, kami yakin teman-teman pengolah tidak kalah," kata dia. 

Merespons hal ini, Edhy mengatakan bahwa persaingan pasar dengan pengusaha-pengusaha besar memang menjadi tantangan. Meskipun begitu, ia menilai bahwa produk dalam negeri memiliki keunggulan atas keabsahan sertifikasi halal dibandingkan dengan produk impor.

“Nah, bagaimana membuat keunggulan ini jadi nilai ekonomi? Mari kita cari jalan keluar, kita cari model bisnisnya. Kalau perlu, kita bangun pusat pasar industri olahan. Kita kumpulkan di satu titik supaya ada efisiensi. Saya yakin ini luar biasa,” terangnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓