Industri Otomotif Indonesia Tertinggal dari Thailand

Oleh Liputan6.com pada 06 Des 2019, 14:10 WIB
Diperbarui 06 Des 2019, 15:17 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosisasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, industri otomotif Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan Thailand. Thailand bahkan sudah banyak mengekspor otomotif ke berbagai negara.

"Kita ketinggalan dari Thailand, dia kan lebih duluan banyak merebut industri otomotif di sana. Kebutuhan lokal seidkit ekspor besar," ujar Hariyadi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (6/12).

Hariyadi mengatakan, Indonesia masih bisa mengejar ketertinggalan apabila ada suatu solusi peta jalan industri otomotif. Hal ini juga dibutuhkan untuk mengantisipasi mobil listrik yang akan menggeser keberadaan mobil konvensional.

"Kita mau ngejar sekarang masih bisa. Tapi tergantung keseriusan dari industri otomotif gimana, arahnya gimana. Ini kan mobil listrik sudah muncul. Kalau bisa semua pikirkan jangka panjang. Karena ini ada pergeseran sangat radikal kalau mau mobil listrik. Bisa-bisa nanti bermasalah yang konvensional," jelasnya.

 

2 dari 4 halaman

Melambat

PHRI
Ketua Umum PHRI, Hariyadi B.Sukamdani. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Dia menambahkan, industri otomotif Indonesia melambat karena industri dalam negeri masih dihadapkan dengan upah pekerja yang tidak jelas. Para investor harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menggaji karyawan dibanding di Thailand.

"Yang jadi krusial ini kan kita belum selesai bahas masalah ketenagakerjaan. Kita mau gimana. Paling utama masalah ketenagakerjaan itu besarnya biaya yang harus dibayarkan oleh pemberi kerja Terutama disini formula perhitungan upah minimum. Mau tidak sentuh disitu. Itu kan masalah sensitif," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

3 dari 4 halaman

Kemenperin Dorong Komponen Lokal Industri Otomotif Capai 70 Persen

Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Mobil siap ekspor terparkir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pemerintah terus mendorong agar industri otomotif di Indonesia dapat menggunakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50 persen. Dengan demikian, industri otomotif dapat memberikan nilai tambah tinggi terhadap perekonomian nasional.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, Harjanto mengatakan, paling tidak pabrikan otomotif di dalam negeri mampu memproduksi dengan menggunakan komponen dalam negeri mencapai 70 persen. Sehingga, dapat menekan beberapa komponen yang selama ini masih impor.

"Iya kita harapkan begitu (mencapai 70 persen). Karena kalau 100 tidak mungkin," kata Harjanto saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Harjanto mengatakan, pada prinsipnya dalam mengembangkan sebuah industri harus mengedepankan prinsip efisiensi. Oleh karenanya, pihaknya menekankan agar industri otomotif nasional dapat menggunakan komponen dalam negeri untuk memproduksi kendaraan roda empat.

"Di negara manapun orang bikin Airbus tidak semua komponennya di buat di Eropa itu kan dari mana-mana. Nah yang ada potensi dalam negeri dan bisa didorong harganya kompetitif kualitas bisa masuk ya mereka akan pakai dalam negeri," jelas dia.

Harjanto menambahkan beberapa komponen di industri otomotifdalam negeri yang bisa ditingkatkan di Indonesia sendiri sudah cukup banyak. Seperti misalnya komponen sasis, body part mobil, hingga komponen universal lainnya seperti batere.

"Engine juga sedang di proses perlu sentuhan tambahan teknologi," tandasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓