Menhub: PR ke Depan Maksimalkan Infrastruktur yang Sudah Dibangun

Oleh Liputan6.com pada 05 Des 2019, 13:54 WIB
Diperbarui 05 Des 2019, 13:54 WIB
Pencapaian Kinerja 4 Tahun Kemenhub
Perbesar
Menhub, Budi Karya Sumadi saat memberikan keterangan pers tentang pencapaian kinerja akhir tahun 2018 Kementerian Perhubungan di Jakarta, Kamis (13/12). Sejumlah pencapaian tercatat dalam laporan kinerja selama empat tahun. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengaku belum cukup puas dengan pembangunan infrastruktur yang tengah dijalankan pemerintah selama lima tahun pertama periode Jokowi. Sebab, pembangunan infrastruktur itu sendiri belum berjalan maksimal meskipun banyak masyarakat yang sudah cukup puas.

"Tapi yang lebih menjurus adalah infrastruktur harus juga diteruskan jadi apa yang ingin kita lakukan ada ukuran lebih bagus adalah kepuasan masyarakat. Lima tahun kemarin kita bangun banyak berikan kepuasan tapi belum maksimal," kata Menhub Budi dalam acara jumpa pers akhir tahun di Kantornya, Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Dia mengatakan, pekerjaan ke depan adalah bukan hanya melanjutkan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan lainnya. Tapi bagaimana agar masyarakat mampu mengoptimalkan infrastruktur yang telah dibangun tersebut.

"Saya teman-teman dirjen bukan selesai membangun tapi bagaimana masyarakat bisa mengembangkan, misal bandara dan lain-lain. Itu perlu kerja keras. Ini mengubah pandangan orang Indonesia tadinya cuma bagaiman kita bekerja untuk diri kita, tapi untuk masyarakat," katanya.

Salah satu pengembangan pembangunan yang kini tengah dirancang adalah lima Bali baru super prioritas. Menurutnya pekerjaan besar itu nantinya akan memberikan manfaat besar bagi pemerintah, utamanya dalam mendatangkan devisa negara.

"Kongkritnya lima Bali baru super prioritas itu keren banget. Bayangin Danau Toba selama ini bagus tapi enggak ada orang ke sana. Makanya kita bikin Bandara Silangit, banyak dermaga, melatih orang," tandasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Jokowi Ungkap 6 Alasan Getol Bangun Infrastruktur di 2014-2019

Kebutuhan Anggaran Penyedia Infrastruktur
Perbesar
Kemampuan APBN untuk 2020–2024 diproyeksikan hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan anggaran untuk penyediaan infrastruktur sebesar Rp 2.058 triliun. (Liputan6.com/JohanTallo)

Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menyebut ada 6 alasan mengapa dirinya semangat membangun infrastruktur di periode pemerintahan 2014-2019.

Pertama, pembangunan infrastruktur harus sejalan dengan penciptaan lapangan kerja baru. Selain itu, infrastruktur juga diharapkan dapat menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru selain di Jakarta atau pulau Jawa.

"Ketiga, ialah harus ada perbaikan jaringan logistik kita. Negara ini terdiri dari 17 ribu pulau, harus ada pembangunan infrastruktur. Infrastruktur harus disambungkan ke sentra-sentra produksi," tuturnya di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Keempat, pembangunan infrastruktur harus menjadi penghubung untuk meningkatkan pelayanan publik ke masyarakat Indonesia.

"Karena apapun kalau sekolah tapi nggak ada jalan menuju ke sekolah bagaimana? Nggak ada jalan menuju puskesmas bagaimana? Dulu dari Wamena ke Duga makan waktu 4hari 4 malam, sekarang cuman 4-5 jam saja. Itu karena infrastruktur," ujar Jokowi.

Adapun alasan kelima pembangunan infrastruktur bertujuan membangun peradaban baru. Sebagai contoh membangun karakter disiplin masyarakat saat mengantre di loket MRT.

"Membangun peradaban, budaya disiplin, budaya antre, itu kelihatan ada MRT dan LRT. Keenam infrastruktur adalah keadilan sosial. Dengan fondasi ini kita bisa berkompetisi dengan negara-negara maju," kata Jokowi.

Lanjutkan Membaca ↓