Terkait Resesi Global, Bank bjb Punya Peluang Menghadapinya

Oleh Reza pada 28 Nov 2019, 17:44 WIB
Diperbarui 28 Nov 2019, 17:44 WIB
bank bjb
Perbesar
Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi percaya bahwa kasus korupsi dapat dicegah dan dilawan dengan menerapkan budaya Good Corporate Governance (GCG) secara berkesinambungan.

Liputan6.com, Jakarta Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2019 mengalami pelambatan menjadi 5,02 persen yoy. Jumlah ini turun dari kuartal sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,05 persen yoy. Secara keseluruhan, hal ini menjadi gambaran risiko resesi ekonomi yang harus segera diantisipasi.

Berdasarkan Riset Bank Dunia (The World Bank) dalam Global Economic Risks and Implications for Indonesia meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya mencapai 4,9% pada 2020 dan terus menurun hingga 4,6% di 2022.

Hal diartikan perlambatan ekonomi global menimbulkan pengaruh terhadap Indonesia. Bank Dunia meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih turun lebih dalam, karena lemahnya produktivitas dan pertumbuhan pekerja.

Melihat hal tersebut, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa  (Bank bjb) telah cukup kuat menghadapi isu resesi global. Bank bjb berkaca dari masa sulit perekonomian nasional di tahun 1998 dan 2008, yang bisa menjadi pengalaman dalam menghadapi ketidakpastian.

Likuditas Bank bjb cukup longgar yang tercermin di loan to deposits ratio (LDR) pada level 88,1%, dibandingkan dengan industri perbankan di level 94,66%

engan likuiditas tersebut, BJBR mampu untuk meraih target pertumbuhan kredit 10-11% pada tahun ini serta mendukung pertumbuhan pada tahun depan.

Sementara itu capital adequacy ratio (CAR) bank bjb cukup optimal di level 16,62% dan akan bertambah seiring dengan rencana private placement dari sejumlah pemegang saham dengan nilai Rp 412 miliar yang akan dieksekusi tahun ini dan tahun depan juga, serta corporate action lainnya.

Sampai September 2019 Bank bjb mencatatkan total kredit Rp 81,48 triliun meningkat 9,8% di bandingkan dengan setahun sebelumnya. Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya penyaluran kredit pada kuartal III lebih bergairah.

Bicara kredit konsumer dengan andalan kredit PNS masih mendominasi portofolio bank bjb. Nilainya mencapai Rp 55,52 triliun pada kuartal III, tumbuh 13% dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

Kredit untuk PNS memiliki outstanding Rp 40,18 triliun, tumbuh 6,2% dari setahun sebelumnya. NPL untuk kredit hanya di level 0,2% dan special mentions (kolektibilitas 2) di 2,3%.

Hal tersebut mencerminkan bahwa kredit PNS memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan kredit modal kerja maupun investasi di tengah ketidakpastian global maupun resesi dunia.

Kredit konsumer lainnya adalah kredit pensiunan yang tumbuh agresif 35,6% selama setahun menjadi Rp 15,33 triliun pada kuartal III. Kredit pensiunan ini bahkan memiliki NPL yang sangat rendah, di level 0,16% dengan kredit kolektibilitas 2 di 1,2%

Sementara itu, kredit mikro yang disalurkan Bank bjb mencapai Rp 5,76 triliun, naik 9,4%% dibandingkan dengan setahun lalu. Usaha mikro produktif terbukti menjadi segmen yang kuat dalam menghadapi beberapa kali krisis di Indonesia.

Selanjutnya, Bank bjb juga mencatatkan pertumbuhan 8,2% pada kredit properti menjadi Rp 6,18 triliun. Adapun kredit komersial mengalami penurunan 0,6% menjadi Rp 14,02 triliun.

Sementara itu DPK tumbuh 10% menjadi Rp 92,53 triliun dengan dana murah (CASA) mendominasi 51,5%. Sama seperti kredit penghimpunan DPK pada kuartal III lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 7%.

Untuk tabungan tumbuh 6,9% menjadi Rp 18,02 triliun, diikuti deposito tumbuh 10,7% menjadi Rp 44,88 triliun. Adapun giro tumbuh 10,9%% menjadi Rp 29,63 triliun.

Faktor lain yang membuat bank ini kuat menghadapi ketidakpastian adalah tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pada September 2019 berada pada level 1,75% secara gross dan 1,0% secara nett. Tingkat NPL ini sangat rendah dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan.

Dalam menghadapi ketidakpastian adalah Bank bjb juga telah meningkatkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sesuai PSAK 71. Tidak tangung-tangung bank yang dipimpin oleh Direktur Utama Yuddy Renaldi ini mencadangkan laba sekitar Rp 80 miliar perbulan. Total CKPN hingga akhir September 2019 sebesar Rp 1,37 triliun dengan coverage rasio sebesar 96%.

Peningkatan CKPN Ini berperan menurunkan profitabilitas Bank bjb pada kuartal III-2019. Laba bersih bank only turun dari Rp 1,32 triliun menjadi Rp 1,11 triliun.

Selain itu penurunan NIM sebesar 83bps menjadi 5,69% juga berperan menurunkan laba. Hal ini seiring dengan kenaikan biaya dana dari 4,9% menjadi 5,4%. Namun, NIM bank bjb tersebut masih di atas rata-rata perbankan yang tercatat 4,9%.

Dengan begitu, dengan adanya peningkatan CKPN yang cenderung positif. Jadi, bisa dibilang bila dampak resesi itu terasa bank tersebut bisa menghadapi risiko yang ada.

 

(*)