3 Prinsip Ciputra Bangun Bisnis hingga Punya Kekayaan Rp 18 Triliun

Oleh Arthur Gideon pada 27 Nov 2019, 08:45 WIB
Diperbarui 27 Nov 2019, 08:45 WIB
Megawati Hadiri Peluncuran Buku Ir. Ciputra

Liputan6.com, Jakarta - Pengusaha Ciputra meninggal dunia. Pendiri dari Grup Ciputra ini meninggal di Singapura Rabu dini hari ini. Kabar duka cita tersebut disampaikan oleh Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Rika Lestari.

"Telah meninggal dunia dengan tenang, Bapak Ir Ciputra, Chairman dan Founder Ciputra Group di Singapore pada tgl 27 November 2019 pk 1:05 waktu Singapore," ujar Rika, di Jakarta, Rabu (27/11/2019).

Ciputra merupakan pengusaha kawakan yang mengawali karier dengan mendirikan usaha konsultan arsitektur pembangunan. Ia memulai usaha dengan mendirikan kantor di garasi. Saat ini kekayaan Ciputra mencapai USD 1, 3 miliar atau RP 18,20 triliun (USD 1= Rp 14.000).

Dalam acara the 5th Annual Jakarta Marketing Week 2017 pada medio Mei 2017, Ciputra mengatakan, seorang pengusaha sukses menerapkan tiga prinsip yang disebut IPE. IPE sendiri terdiri dari integritas, profesionalisme, dan entrepreneur.

Dia menuturkan, integritas merupakan fondasi penting dalam membangun kesuksesan. Integritas menjadi dasar dalam menjalin hubungan kepercayaan.

"Integritas, adalah moral dan kejujuran, manusia itu ada soul. Yang menjadi dasar segalanya, karena itu dari Tuhan yang diharapkan jangan buat kesalahan. Kalau moral, integritas, kejujuran terganggu atau negatif maka sukar sekali diperbaiki. Itu merupakan branding kita. Yang tidak ada kompromi," kata dia.

Ia menambahkan, profesionalisme mencakup keahlian. Keahlian pun bermacam-macam wujudnya seperti keahlian mengenai teknologi. Terakhir ialah entrepreneur atau jiwa usahawan. Tanpanya, maka langkah untuk menjadi seorang pengusaha sukses akan sulit diraih.

"Ketiga ialah entrepreneur atau emotional person, yang kami akan bicarakan hari ini," ujar dia.

Lebih lanjut, Ciputramenjelaskan, kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan bagian penting untuk memangkas kesenjangan antara kaya dan miskin. 

 

2 dari 2 halaman

Entrepreneurship

Dia menjelaskan, ada bermacam-macam cara untuk memangkas kesenjangan. Di antaranya ialah pendidikan dan pelatihan pada buruh. Dengan begitu, keahlian, produktivitas, serta pendapatan akan meningkat.

Namun, menurut Ciputra, hal itu merupakan upaya jangka pendek. Lantaran, ukuran kinerja mereka tetap saja diukur berdasarkan upah minimum.

"Yang benar dapat mengatasi kesenjangan tersebut adalah entrepreneurship," ujar dia.

Dia mengatakan, entrepreneurship merupakan usaha untuk memberikan nilai tambah."Kaki lima bukan entrepreneurship, bukan toko kelontong tak ada nilai tambah. Entrepreneurship yang menurut kami mengubah sampah jadi emas," kata dia.

Lanjutkan Membaca ↓