Imbas Resesi Global ke Indonesia Bakal Lebih Rendah dari Negara Tetangga

Oleh Liputan6.com pada 26 Nov 2019, 12:40 WIB
Diperbarui 26 Nov 2019, 12:40 WIB
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag, Kasan. Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu
Perbesar
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag, Kasan. Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Liputan6.com, Jakarta Ekonomi global saat ini tengah menunjukan kondisi yang kurang baik. Pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan dan terjadi kontraksi perekonomian di beberapa negara.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kasan menyebutkan dampak yang terjadi dari kondisi ekonomi global terhadap Indonesia cukup rendah. Bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di kawasan ASEAN.

Hal ini, kata dia, berdasakan keterbukaan ekonomi atau trade openness Indonesia yang lebih rendah dibanding negara tetangga.

"Trade openness suatu negara di catatan yang ada. Kita adalah negara dengan trade openness relatif lebih rendah dibanding negara ASEAN yang lain," kata dia, dalam acara proyeksi ekonomi 2020 Kabinet Baru dan Ancaman Resesi, di JS Luwansa, Jakarta, Selasa (26/11).

Dia mengungkapkan, negara dengan trade openness tinggi diantaranya adalah Singapura, Thailand, Vietnam dan Malaysia.

"Artinya, posisi ekspor impor terhadap PDB untuk Indonesia relatif lebi rendah dibandingkan dengan kondisi yang dialami oleh negara-negara ASEAN yang lain," ujarnya.

"Oleh karena itu, kerentanan ekonomi manakala resesi di global tentu juga akan lebih rendah," dia menambahkan.

Negara-negara dengan trade openness tersebut akan mendapat dampak yang cukup tinggi juga jika terjadi resesi global.

"Negara-negara dengan tingkat trade openness yang sangat tinggi maka dia akan mengalami dampak yang lebih berat dibanding yang lebih rendah," tutupnya.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Tak Jadi Resesi, Ekonomi Singapura Tumbuh 0,5 Persen

Ilustrasi bendera Singapura - Portrait (Wikimedia Commons)
Perbesar
Ilustrasi bendera Singapura - Portrait (Wikimedia Commons)

Setelah beberapa kali terancam masuk jurang resesi, akhirnya Singapura berhasil menyelamatkan diri dan memulihkan kondisi ekonominya. Ekonomi Singapura tercatat tumbuh 0,5 persen, lebih tinggi dari proyeksi kuartal III 2019.

Mengutip laman CNBC, Jumat (22/11/2019), produk domestik bruto (PDB) Singapura naik 0,5 persen year on year. Angka ini sesuai dengan hasil jajak pendapat Reuters namun pertumbuhannya lebih tinggi 0,1 persen.

Pemerintah Singapura turut mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 0,5 persen - 1 persen dari yang sebelumnya 0 persen - 1 persen.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gabriel Lim menyatakan, ada stabilisasi dalam ekonomi global, meski pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masih melemah.

"Sektor manufaktur Singapura juga bekerja lebih baik dari harapan," ujarnya.

Lebih rinci, pada periode Juli hingga September 2019, ekonomi Singapura tumbuh 2,1 persen dari kuartal sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan awal sebesar 0,6 persen.

Sebelumnya, ekonomi Singapura melemah imbas dari perang dagang yang tak kunjung menemui titik akhir. Akibatnya, ekspor Singapura melemah dan memperlambat ekonomi negara.

Lanjutkan Membaca ↓