Pakar: Jangan Salah Terjemahkan Data saat Jualan Produk

Oleh Tommy Kurnia pada 22 Nov 2019, 19:45 WIB
Diperbarui 22 Nov 2019, 19:45 WIB
Belum Semua Brand Yakin Efektivitas Iklan Mobile
Perbesar
Ilustrasi Mobile Marketing

Liputan6.com, Jakarta - Zaman sekarang, data menjadi primadona di berbagai perusahaan agar bisa memahami target pasar. Namun, sosok-sosok yang secara langsung bekerja di sektor kreatif justru mengingatkan agar tidak asal membaca persenan data tanpa memahami esensi dan cara pemanfaatannya.

Strategic Creative Lead ROMP Afianto Makmun berkata, zaman sekarang memang mudah mendapatkan tren data. Sumbernya bervariasi mulai dari platform media sosial, mesin pencarian, bahkan dengan menggunakan research agency.

Namun, ia mengingatkan bahwa semua perusahaan juga bisa mencari data. Maka dari itu penting agar jangan sampai melakukan hal yang sama jika sudah mendapat data.

Salah satu caranya adalah mendalami data tersebut agar tidak melihatnya bagaikan statistik angka saja. Teknik itu ia sebuah memanusiakan data (humanizing data)

"Kita bilang adalah kita berusaha memanusiakan data. Jadi itu bukan hanya kita mendapatkan sebuah data lalu langsung kita terjemahkan kepada action. Tetapi, kita coba analisa sendiri, membayangkan data itu kita kembalikan lagi sebagai human, bukan hanya angka," ujar Afinanto pada diskusi Disrupto bertajuk Humanizing Data: The Saga of Data vs Guts di Jakarta, Jumat (22/11/2019).

 

2 dari 2 halaman

Pahami Data

Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Axton Salim dalam acara Disrupto di Jakarta, Jumat (22/11/2019).
Perbesar
Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Axton Salim dalam acara Disrupto di Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Afianto berbincang di diskusi itu bersama Direktur PT Indofood Sukses Makmur, Axton Salim, yang menekankan pentingnya memahami data demi memahami konsumen.

Setelah mendapat data, ia pun mengajak untuk memadukan data dan guts (insting) agar muncul kreasi positif dari data yang didapatkan. Ia pun tak mau langsung percaya data dengan membabi buta.

"Kita mengutilisasi apa yang kita ketahui (lewat data), jangan langsung percaya secara blindfaith," ujar Axton.

Langkah itulah yang mendorong kehadiran kolaborasi Chitato dan Indomie Goreng, serta berbagai tren menarik perhatian.

Iklan Indofood yang berdasarkan data tren lain adalah iklan ala drama Korea, iklan vintage, iklan bad-lipsync, hingga iklan Hype Abis yang terinspirasi dari tren Hypebeast di kalangan anak muda.

Axton menjelaskan Indofood berusaha memahami secara mendalam data mengenai pengguna. Dan setelah mendapatkan data, kemudian mengambil keputusan aksi lewat guts.

Lanjutkan Membaca ↓