Cerita Jokowi Disentil Pemimpin Dunia karena Masih Gunakan PLTU Batu Bara

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 20 Nov 2019, 20:46 WIB
Diperbarui 20 Nov 2019, 21:17 WIB
Pimpin Sidang Kabinet Paripurna, Jokowi Bahas Prioritas Nasional 2019

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diingatkan sejumlah tokoh dunia untuk mengurangi penggunaan batu bara untuk sektor kelistrikan. Namun dia menyatakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih dibutuhkan di Indonesia.

Jokowi mengatakan, dalam pertemuan ASEAN Summit di Bangkok, dirinya diingatkan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guiterez, untuk berhati-hati dalam penggunaan batu bara untuk sektor kelistrikan.

"Dia mengajak saya untuk mulai mengurangi penggunaan batu bara untuk pembangkit tenaga listrik.Ternyata arahnya ke sana," kata Jokowi, saat menghadiri pemberian penghargaan IMA, di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

‎Jokowi pun menanggapi hal tersebut dengan menjawab batu bara untuk sektor kelistrikan masih dibutuhkan. Namun, pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) terus dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di setiap daerah.

"Ya saya jawab, sekarang masih dibutuhkan‎. Nanti kalau kita swicth ke EBT baik yang sudah kita coba, Angin di Sidrap, Jeneponto, kemudian hydropower yang juga beberapa kita jajaki di Mambramo, Sungai Kayang di Kaltara, atau juga yang berkaitan dengan Geotermal yang memiliki potensi 29.000 MW yang digunakan belum ada 2.000 MW. Arahnya akan ke sana," papar Jokowi.

‎Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christalina juga mengingatkan Jokowi untuk mengurangi penggunaan batu bara. "Saya jawab sama, ya saya tahu nanti akan kita arahkan penggunaan EBT baik hydropower baik angin, solar cell, atau geotermal, dan lain-lain,"ujarnya.

Menurut Jokowi, mengubah penggunaan batu bara ke EBT dilakukan secara bertahap. Dia pun kembali menekankan, Indonesia sedang menuju penggunan energi ramah lingkungan.‎"Karena memang untuk mengubah langsung saya kira kita butuh tahapan-tahapan. Tapi yang perlu kita garis bawahi bersama bahwa dunia sudah menuju kepada energi yang ramah lingkungan,"tandasnya.

2 of 3

Dampak Perubahan Iklim, Kota di Asia Tenggelam Bila Terus Kecanduan Batu Bara

Tambang batu bara
Aktivitas di tambang batu bara di Lubuk Unen, Kecamatan Merigi Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah. (Liputan6.com/Yuliardi Hardjo Putro)

PBB memperingatkan negara-negara Asia untuk berhenti dari "kecanduannya" terhadap batu bara. Karena, perubahan iklim telah mengancam ratusan juta orang yang rentan terhadap naiknya permukaan laut di seluruh kawasan itu.

Peringatan PBB untuk berhenti dari 'kecanduan' batu bara, menyusul penelitian baru minggu ini yang memperkirakan bahwa beberapa kota besar Asia, termasuk Bangkok, Kota Ho Chi Minh, dan Mumbai, menghadapi risiko banjir ekstrem terkait pemanasan global.

Ketua PBB, Antonio Gutteres mengatakan, negara-negara Asia perlu mengurangi ketergantungan pada batu bara untuk mengatasi krisis iklim, yang ia sebut sebagai "masalah menentukan zaman kita."

Mengutip dari laman ABC, Sabtu (3/11/2019), Australia adalah eksportir batubara terbesar di dunia, dengan sebagian besar batu baranya dikirim ke Asia.

"Ada kecanduan batu bara yang perlu kita atasi, karena itu tetap menjadi ancaman utama dalam kaitannya dengan perubahan iklim," kata Guterres kepada wartawan menjelang pertemuan Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Bangkok.

Dia mengatakan, negara-negara di kawasan itu perlu berada di "garis depan" dari pertarungan dengan memperkenalkan harga karbon mereformasi kebijakan energi.

3 of 3

Risiko Terendam Banjir

Selain itu ia juga menuturkan, "Kami tertinggal," seraya menambahkan bahwa kemunduruan batu bara dapat membantu mengekang kenaikan suhu global.

Batu bara tetap menjadi sumber daya utama di seluruh Asia Tenggara, di mana perkembangan ekonomi yang sangat tinggi telah memacu permintaan energi yang melambung dengan biaya bagi lingkungan.

Sekitar sepertiga dari energi Vietnam juga berasal dari tenaga batu bara dengan sejumlah pabrik baru akan mulai beroperasi pada 2050, sementara Thailand berinvestasi dalam bahan bakar fosil.

Wilaya pesisir di seluruh Asia Tenggara telah menyaksikan banjir besar dan serangan air laut terkait dengan perubahan iklim.

Penelitian baru miinggu ini menunjukkan, setidaknya 300 juta orang di seluruh dunia hidup di tempat-tempat yang berisiko terendam banjir pada 2050 --gambaran yang jauh lebih suram dari perkiraan data sebelumnya.

Gelombang badai yang merusak yang dipicu oleh topan yang semakin kuat dan laut yang naik akan menghantan Asia paling keras, menurut penelitian dalam jurnal Nature Communnications.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait