Grab Akui Banyak Pengguna Skuter Listrik Tak Kembalikan Helm

Oleh Liputan6.com pada 18 Nov 2019, 14:17 WIB
Diperbarui 18 Nov 2019, 14:17 WIB
Pemprov DKI Siapkan Regulasi Penggunaan Skuter Listrik
Perbesar
Pengguna jalan mengendarai otopet atau skuter listrik di Jakarta, Rabu (16/10/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan menyiapkan regulasi untuk penggunaan skuter listrik di jalur sepeda. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

 

Liputan6.com, Jakarta - Keluarga Whisnu, korban kecelakaan Grabwheels di Gelora Bung Karno (GBK), mengeluhkan jumlah helm Grabwheels yang lebih sedikit dibanding jumlah skuter listrikyang tersedia. Keluarga menyebut saat kecelakaan, Wishnu tidak menggunakan helm.

Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno, mengakui bahwa sudah menyediakan helm untuk para pengendara layanan skuter listrik tersebut. Namun helm itu banyak yang hilang karena diambil pengguna.

"Masyarakat tolong helm dikembalikan karena bisa dipakai sama pengguna yang lain. Sudah banyak sekali yang tidak kembali Pak (Kepala bidang lalulintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta) helm Pak. Itu kami mohon dalam kesempatan ini bisa mengimbau yang memakai nanti mengembalikan," kata Tri Senin (18/11/2019).

Meski begitu, Grab akan tetap menambah jumlah helm yang ada. Namun dia meminta masyarakat untuk tertib dan mengembalikan helm usai menggunakan skuter listrik.

"Kita juga sediakan helm. Kita akan lebih tambah lagi helmnya untuk di setiap tempat," ucapnya.

Sebelumnya, Kakak Wisnu, Dwi Jelita mengaku resah dengan helm Grabwheels yang tidak sesuai dengan jumlah unit yang disewa. Bahkan, dia mengungkapkan, saat adiknya menggunakan Grabwheels tidak tersedia helm.

"Keberadaan helm ini diperhatikan, jangan hanya ada unit nya saja tapi tidak ada helmnya," katanya di Pintu 3 kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.

Reporter: Sania Mashabi

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Keluarga Korban Skuter Listrik Tabur Bunga di GBK Senayan

Tabur Bunga Kecelakaan Skuter Listrik
Perbesar
TAbur bunga dilakukan sekaligus mendesak polisi untuk serius menangani kasus yang menewaskan dua orang itu. (Liputan6.com/Yopi Makdori)

Keluarga korban tewas kecelakaan skuter listrik menggelar tabur bunga di Gate 3 Komplek Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Aksi tersebut dilakukan sekaligus mendesak polisi untuk serius menangani kasus yang menewaskan dua orang itu.

"Kita tabur bunga menegaskan keadilan di kasus Amar ini," tutur kakak kandung korban tewas, Alan Darma Saputra di lokasi, Minggu (17/11/2019).

Menurut Alan, ada kejanggalan dalam proses kasus yang menimpa adiknya itu. Menurutnya, Polantas mengatakan bahwa pelaku sempat meminta tolong kepada warga saat kecelakaan terjadi.

Namun menurut keterangan saksi mata dan korban selamat, pelaku malah langsung melarikan diri. "Di situ CCTV nggak bisa dibuka karena CCTV memorinya penuh dan sebagainya," ucap dia.

Di samping itu, lanjut Alan, hal aneh lainnya adalah kekebalan hukum pelaku. Pasalnya, penabrak pengguna skuter listrik itu tidak ditahannya hingga saat ini.

"Padahal sudah membunuh dua orang dengan berkendara dalam keadaan mabuk. Diwajibkan hanya wajib lapor saja," kata Alan.

"Polisi terkesan seperti melambatkan proses hukum ini," lanjutnya.

Selain itu, Alan menyebut, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para korban selamat kecelakaan skuter listrik juga tidak boleh diambil salinannya oleh pihak kepolisian. "Dia sudah melakukan BAP tapi BAP-nya tidak boleh di-copy itu dia. Gak ngerti ini polisi kenapa seperti menutup-nutupi," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓