Kementan Lepas 8,4 Ribu Ton Ekspor Sawit asal Kalsel

Oleh Athika Rahma pada 09 Nov 2019, 13:00 WIB
20160308-Ilustrasi-Kelapa-Sawit-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian melepas ekspor minyak sawit dan palm kernel ekspeller sebanyak 8,4 ribu ton dengan nilai ekonomi Rp 36,3 miliar.

Rinciannya, minyak sawit diekspor sebanyak 4,2 ribu ton atau senilai Rp 29,6 miliar sementara palm kernel ekspeller (PKE) diekspor sebanyak 2,6 ribu ton atau senilai Rp 4,1 miliar.

Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil menyatakan, potensi ekspor asal Kalimantan Selatan ini akan terus digenjot untuk mengimbangi jumlah ekspor mineral dan batu bara (minerba) yang masih mendominasi.

"Potensi pertanian kita bagus, seperti produk samping kelapa sawit ini, PKE ternyata bernilai ekonomi tinggi," ujar Ali sebagaimana dikutip Liputan6.com dalam keterangan resmi, Sabtu (09/11/2019).

Ekspor minyak sawit dan PKE ini dilakukan di Tempat Lain Pemeriksaan Karantina di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

 

2 of 4

Ekspor hingga November 2019

Sawit
Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh 2019 menyebut terdapat 61 perusahaan kelapa sawit di provinsi itu. Sebanyak 39 diantaranya masih beroperasi, delapan dalam tahap pembangunan, dan 14 lainnya dinyatakan kolaps. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Sebagai informasi, hingga November 2019 tercatat Kementan telah melakukan ekspor produk unggulan Kalimantan Selatan hingga 1.124 kali dengan nilai ekonomi Rp 2,9 triliun. Jumlah ini lebih besar dari tahun 2018 yang hanya Rp 2,3 triliun.

Angka ini naik 2,6 persen dari periode sebelumnya dengan tambahan adanya komoditas ekspor unik lain yaitu daun gulinggang atau sena. Hingga Oktober 2019, 127 ton daun gulinggang telah dikirim ke Jepang dengan nilai Rp 9 miliar.

Nantinya, petani di kabupaten Hulu Sungai Selatan akan mulai membudidayakan daun ini untuk memenuhi permintaan ekspor.

"Dengan beebasis kawasan akan mempermudah pihak Karantina Pertanuan dalam mengawal proses bisnis ekspornya," ujar Kepala Karantina Pertanian Banjarmasin Achmad Gozali.

3 of 4

Turunkan Tarif Impor Sawit, Indonesia Bakal Serap Beras India

Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pemerintah India menyetujui persyaratan yang diminta Indonesia terkait ekspor kepala sawit agar tidak ada perbedaan dengan Malaysia. Namun India juga meminta Indonesia untuk bisa membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar dari mereka.

“Memang saat sekarang tarif kelapa sawit, baik itu untuk CPO maupun RBD sudah sama. Semula ada perbedaan 5 persen, namun sesuai dengan permintaan Bapak Presiden, Perdana Menteri Narendra Modi menerima itu sehingga tarif CPO itu sama, Refined Bio Blended itu sama, RBD itu sama,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dikutip dari laman Setkab, Selasa (5/11/2019).

Menurut Airlangga, yang sekarang 40 persen CPO, 50 persen RBO akan dikirimkan per akhir bulan Desember menjadi 37,5 persen dan 45 persen, dan ini berlaku untuk Indonesia dan Malaysia, sehingga tidak ada perbedaan antara Indonesia dan Malaysia.

“Dengan demikian, tentu ini menjadi bagian dari kerja sama,” ujarnya.

Namun diakui Menko Perekonomian jika India mengharapkan Indonesia bisa membeli beras dan gula dalam bentuk raw sugar dari India. Menurut Airlangga, dan pemerintah sudah mengatakan diambil secara bertahap.

“Nanti bisa ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan ke depan dan memang per hari ini trade kita dengan India positif. Kita positif 8 miliar dolar AS, tertinggi di 2017 sebesar 10 miliar dolar AS, dan komoditas utamanya adalah batu bara dan kelapa sawit,” terang Airlangga.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓